Festival Cap Go Meh Nusantara 2026 Bersama Ramadan
- 25 Feb 2026 22:31 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Dewan Pimpinan Daerah WALUBI Sulawesi Selatan, bersama Pembimas Buddha Sulsel, Sumarjo, mengadakan audiensi dengan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan untuk memaparkan rencana Festival Cap Go Meh Nusantara 2026. Festival ini unik karena digelar bersamaan dengan bulan suci Ramadan, sekaligus menampilkan perpaduan budaya Tionghoa dan nuansa Islami.
Dalam pertemuan tersebut, WALUBI Sulsel diwakili Pdt. Roy Ruslim (Wakil Ketua 1), Miguel Dharmadjie (Wakil Ketua 3), dan Erdy Wijaya (Ketua DPD KCBI Sulsel). Pdt. Roy Ruslim menjelaskan, festival yang akan berlangsung pada 3 Maret 2026 di Jalan Sulawesi, Makassar, mengusung konsep Imlek Nusantara. Konsep ini bertujuan menampilkan pesta rakyat yang inklusif, menghormati umat Muslim yang sedang berpuasa, dan menegaskan nilai persaudaraan lintas iman.
“Kami ingin menyatukan nilai Imlek dengan nilai kebangsaan, sebagai simbol toleransi, persaudaraan, dan kebersamaan antarumat beragama,” ujar Pdt. Roy, Rabu 25 Februari.2025.
Rangkaian kegiatan festival dirancang menarik dan beragam, mulai dari lomba bedug, pertunjukan seni budaya dan gendang barongsai, hingga pameran kuliner UMKM yang melibatkan sekitar 100 pelaku usaha lokal. Selain itu, WALUBI Sulsel juga mengadakan bakti sosial di Kecamatan Wajo, dilanjutkan dengan buka puasa bersama yang akan diisi tausiyah oleh Ustadz Muhammad Fachru Rozi.
Menurut Miguel Dharmadjie, Cap Go Meh Nusantara menjadi cerminan keberagaman Indonesia yang hidup berdampingan. Perbedaan keyakinan tidak menghalangi masyarakat untuk saling membangun kepedulian sosial. Sementara itu, Erdy Wijaya menilai penggabungan festival dengan nuansa Ramadan menunjukkan toleransi yang tumbuh secara alami di masyarakat.
Kepala Kanwil Kemenag Sulsel memberikan apresiasi tinggi atas inisiatif ini dan menyatakan akan hadir secara langsung sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan toleransi dan harmonisasi antarumat beragama.
“Kegiatan seperti ini bisa berjalan dengan baik karena adanya sikap saling menghormati dan komitmen melayani umat. Inisiatif ini menjadi contoh nyata kerukunan antarumat beragama,” jelasnya.
Ia menekankan, menjaga harmonisasi antarumat beragama adalah kunci agar perbedaan keyakinan tidak mengganggu persaudaraan dan kehidupan bermasyarakat yang harmonis.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....