Istigfar jelang Magrib Diyakini Mustajab dan Berkah
- 25 Feb 2026 16:51 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Dalam kajian literatur klasik Islam, terdapat satu waktu yang disebut-sebut sebagai 'pintu langit yang terbuka lebar', yakni saat-saat menjelang berbuka puasa. Para pakar syariat mengungkapkan bahwa istigfar yang diucapkan di waktu tersebut memiliki bobot timbangan yang sangat berat.
Hal ini berkaitan dengan janji Allah SWT tentang pembebasan hamba-hamba-Nya dari api neraka yang terjadi setiap malam di bulan Ramadan bagi mereka yang memohon dengan tulus. Analisis teologis menunjukkan bahwa istigfar di akhir ibadah adalah sunah yang dilakukan oleh para Nabi.
Sebagaimana istigfar menjadi penutup shalat, maka istigfar jelang berbuka adalah penutup rangkaian ibadah puasa harian. Praktik ini merupakan bentuk pengakuan penghambaan (ubudiyah) yang paling jujur; bahwa manusia sehebat apa pun usahanya dalam beribadah, tetaplah makhluk yang penuh kekurangan dan selalu membutuhkan rahmat Tuhan.
Selain dimensi akhirat, istigfar di waktu mustajab ini juga diyakini membawa dampak ekonomi dan sosial bagi pelakunya. Merujuk pada tafsir ayat-ayat Al-Qur'an, istigfar adalah kunci dibukanya pintu rezeki dan kekuatan fisik yang berlipat ganda.
"Orang yang menutup puasanya dengan permohonan ampun cenderung memiliki manajemen emosi yang lebih baik, yang secara tidak langsung meningkatkan produktivitas dan keharmonisan keluarga setelah berbuka," jelas seorang akademisi bidang studi Islam.
Lebih dalam lagi, ulama menjelaskan bahwa rintihan hamba yang sedang menahan lapar demi Tuhannya jauh lebih dicintai daripada zikir yang diucapkan dalam keadaan kenyang. Ketulusan di saat tubuh lemah memberikan resonansi spiritual yang berbeda. Inilah mengapa istigfar menjelang berbuka dianggap sebagai "senjata pamungkas" untuk mengetuk pintu Arsy agar segala hajat dunia dan akhirat dapat dikabulkan oleh Allah SWT.
Kesadaran akan pentingnya momen ini diharapkan dapat mengubah budaya menunggu berbuka dari sekadar scrolling media sosial menjadi momentum perenungan. Dengan membasahi lisan melalui istigfar, seorang Muslim tidak hanya mendapatkan kepuasan fisik saat azan berkumandang, tetapi juga mendapatkan kesucian jiwa. Pada akhirnya, istigfar adalah jembatan emas yang menghubungkan pengorbanan hamba selama seharian penuh dengan pengampunan luas dari Sang Khalik.
Sumber Informasi:
Lathaif al-Ma’arif – Ibnu Rajab Al-Hanbali.
Tafsir Ibnu Katsir (Penjelasan manfaat istigfar dalam Surah Nuh).
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....