Fenomena Buku Amaliah Ramdhan Bagi Siswa

  • 21 Feb 2026 05:44 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar – Pemandangan unik selalu menghiasi setiap sudut masjid dan mushalla sepanjang bulan suci Ramadan, Begitu salam terakhir berkumandang pada salat tarawih maupun subuh, puluhan anak sekolah biasanya langsung berhamburan , bukan untuk pulang, melainkan untuk mengepung sang ustaz atau penceramah.

Sambil menggenggam pulpen dan buku tipis berwarna-warni yang dikenal sebagai Buku Amaliah Ramadan, mereka rela mengantri panjang, demi mendapatkan satu coretan tanda tangan sebagai bukti kehadiran ibadah.

Bagi para siswa, buku ini adalah paspor wajib dari sekolah yang harus diisi penuh selama sebulan. Isinya mencakup daftar hadir shalat lima waktu, shalat tarawih, tadarus Al-Qur'an, hingga ringkasan ceramah agama. "Kalau tidak ada tanda tangan ustaz, nanti nilai agama saya bisa kosong, Jadi haruska sabar mengantri meski kadang ustaznya sudah mau pulang," ujar Faruq (11), salah satu siswa sekolah dasar yang ditemui di Masjid Nur Fisabilillah Sudiang, Jumat, 20 Februari 2026.

Fenomena ini juga menjadi tantangan tersendiri bagi para penceramah. Setelah memberikan tausiyah selama 15–20 menit, mereka harus meluangkan waktu tambahan untuk menandatangani tumpukan buku yang disodorkan secara bersamaan. Meski melelahkan, banyak ustaz yang memandang hal ini sebagai momen positif untuk mendekatkan anak-anak dengan Masjid.

"Tugas mubaligh di bulan Ramadan itu paket lengkap, berdakwah lewat lisan di atas mimbar, dan berdakwah lewat kesabaran saat menandatangani buku amaliah anak-anak. Meski melelahkan, inilah cara kita mengapresiasi semangat mereka yang mau melangkahkan kaki ke masjid untuk Tarawih." ujar Ustad Irfan Al Fatih.

Ustd Irfan juga mengatakan bahwa buku Amalia Ramadhan ini bisa menjadi media Pendidikan Karakter Melatih kedisiplinan dan kejujuran siswa dalam beribadah. selain itu juga memotivasi anak-anak untuk menyimak materi ceramah agar bisa merangkumnya di buku" Terangnya.

Aroma kertas buku Amaliah dan perjuangan berdesakan mengejar tanda tangan tetap menjadi memori Ramadan yang tak tergantikan. Tradisi ini membuktikan bahwa Ramadan bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga, tapi juga tentang membentuk kebiasaan baik sejak dini lewat selembar tanda tangan dan sebuah buku kecil.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....