Ujian dan Nikmat, Kunci Ketahanan Mental

  • 11 Feb 2026 07:29 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar  Menteri Agama Nasaruddin Umar memaparkan konsep ketahanan mental atau resilience dari perspektif tasawuf saat mengisi kajian Thareqat Almuhammadiyyah Alyunusiyyah Al-Idrisiyah di Makassar, Sulawesi Selatan. Dikutip dari Kemenag.go.id, dalam kajian tersebut Menag mengajak umat untuk memahami makna kedamaian batin melalui pendekatan spiritual. 

Menurutnya, kedamaian batin sejati dapat diraih ketika seseorang mampu melampaui dualitas antara kesenangan dan penderitaan. Pada tingkat spiritual tertentu atau maqam, jarak antara ujian dan kenikmatan akan semakin menyempit hingga tidak lagi dipandang sebagai dua hal yang berbeda. Bagi orang beriman, penderitaan dan kenikmatan sejatinya memiliki makna yang sama dalam perjalanan spiritual.

Konsep ketahanan mental dalam Islam, lanjut Menag, dibangun melalui pemahaman bahwa segala sesuatu di alam semesta diciptakan secara berpasangan untuk menciptakan keseimbangan. Ia mencontohkan keberadaan siang dan malam sebagai analogi dalam memahami hakikat cahaya.

Tanpa adanya siang, manusia tidak akan memahami apa itu malam. Begitu pula sebaliknya, tanpa malam, hakikat cahaya tidak akan dikenali. Bahkan, konsep tentang surga dapat dipahami karena adanya neraka. Dalam kehidupan sehari-hari, makna kebaikan sering kali baru disadari melalui adanya ujian dan keburukan.

Lebih jauh, Menag menekankan pentingnya mengubah cara pandang atau mindset dalam menghadapi berbagai dinamika kehidupan. Menurutnya, ketenangan batin tidak ditentukan oleh kondisi eksternal, melainkan oleh bagaimana hati memproses setiap peristiwa yang terjadi.

Jika segala sesuatu dipandang sebagai manifestasi kehendak Sang Pencipta, maka tidak ada alasan bagi seseorang untuk merasa terpuruk secara berlebihan. Setiap peristiwa merupakan bagian dari proses pengenalan diri sekaligus pengenalan kepada Tuhan.

Menutup kajiannya, Menteri Agama berpesan agar umat Islam menyambut bulan suci Ramadan dengan kesiapan ruhani yang matang. Ia mengingatkan agar tujuan ibadah difokuskan sepenuhnya kepada Allah SWT, bukan semata-mata mengejar pengalaman spiritual atau fenomena keagamaan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....