Demam Piala Dunia dan Dampak Bagi Iklim Sepak Bola Indonesia

  • 12 Jun 2026 18:28 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID,Makassar – Atmosfer sepak bola dunia kembali memanas seiring bergulirnya demam Piala Dunia yang selalu berhasil menyedot perhatian jutaan penggemar. Fenomena ini tidak hanya menghadirkan euforia di negara-negara peserta, tetapi juga memberikan dampak terhadap perkembangan sepak bola di Indonesia.

Hal tersebut menjadi pembahasan dalam program Dialog PRO1 RRI Makassar edisi Jumat, 12 Juni 2026, yang dipandu oleh Risna Supratio dengan menghadirkan Sul Daeng Kulle, Presiden Red Gank PSM, sebagai narasumber. Menurut Sul Daeng Kulle, setiap penyelenggaraan Piala Dunia selalu menjadi momentum penting untuk meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap sepak bola.

Antusiasme masyarakat yang menyaksikan pertandingan dari berbagai negara mampu membangun budaya diskusi, kebersamaan, hingga meningkatkan minat generasi muda untuk ikut bermain sepak bola. "Piala Dunia bukan sekadar ajang pertandingan antarnegara, tetapi sebuah peristiwa yang menghidupkan kembali semangat masyarakat terhadap olahraga sepak bola. Ini menjadi energi positif bagi pembinaan sepak bola di Indonesia," ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa demam Piala Dunia juga berdampak pada meningkatnya aktivitas komunitas suporter di berbagai daerah. Mulai dari kegiatan nonton bareng, diskusi taktik permainan, hingga berbagai agenda sosial yang melibatkan pecinta sepak bola.

“Budaya seperti ini dapat menjadi modal sosial yang baik apabila diarahkan untuk mendukung perkembangan kompetisi nasional dan pembinaan usia muda. Ketika masyarakat semakin mencintai sepak bola, maka ekosistem olahraga ini ikut bergerak, mulai dari komunitas, akademi, hingga klub-klub daerah," kata Sul Daeng Kulle.

Dalam dialog tersebut, ia juga menyoroti pentingnya menjadikan Piala Dunia sebagai sarana pembelajaran. Indonesia tidak cukup hanya menjadi penonton, tetapi harus mampu mengambil pelajaran dari negara-negara yang sukses membangun sistem pembinaan pemain secara berkelanjutan.

"Yang perlu kita tiru disini bukan hanya kualitas permainan di lapangan saja , tetapi bagaimana cara mereka membangun akademi, kompetisi yang sehat, serta manajemen klub yang profesional," ungkapnya.

Bagi sepak bola Indonesia, euforia Piala Dunia dinilai dapat menjadi kesempatan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, baik pemain, pelatih, maupun suporter. Sul Daeng Kulle berharap semakin banyak anak muda yang terinspirasi untuk berlatih dengan disiplin dan memiliki cita-cita membela klub maupun tim nasional Indonesia.

"Semangat yang muncul karena Piala Dunia harus diterjemahkan menjadi motivasi untuk berlatih dan berprestasi, bukan hanya berhenti pada euforia menonton pertandingan," tuturnya.

Ia juga mengingatkan bahwa fanatisme terhadap klub atau negara peserta Piala Dunia harus tetap dibarengi dengan sikap sportif dan menjunjung tinggi persaudaraan. Menurutnya, sepak bola memiliki kekuatan menyatukan berbagai kalangan tanpa memandang latar belakang.

"Perbedaan dukungan adalah hal yang wajar, tetapi nilai utama sepak bola adalah persahabatan, solidaritas, dan rasa saling menghormati. Itulah budaya yang harus terus kita bangun," jelas Presiden Red Gank PSM tersebut.

Menutup dialog, Sul Daeng Kulle berharap demam Piala Dunia dapat menjadi momentum kebangkitan iklim sepak bola Indonesia, termasuk di Sulawesi Selatan. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mendukung pembinaan pemain muda, memperkuat kompetisi lokal, serta terus memberikan dukungan positif kepada klub-klub nasional.

"Jika semangat Piala Dunia mampu kita manfaatkan untuk memperbaiki pembinaan dan membangun budaya sepak bola yang sehat, maka Indonesia memiliki peluang besar untuk semakin berprestasi di tingkat internasional di masa depan," pungkasnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....