Mengenal KRI Irian 201, Kapal Penjelajah Perkasa Indonesia di Era Trikora

  • 02 Okt 2026 10:02 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, MAKASSAR - KRI Irian 201 merupakan salah satu kapal perang paling besar dan bersejarah yang pernah memperkuat Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI), nama TNI Angkatan Laut sebelum 1966. Kapal ini sebelumnya bernama Ordzhonikidze, melansir kchf.ru kapal perang kelas berat ini merupakan jenis penjelajah kelas Sverdlov atau Project 68bis milik Angkatan Laut Uni Soviet, lalu dibeli Indonesia pada 1962 untuk memperkuat kekuatan laut menghadapi konflik Irian Barat.

KRI Irian melansir browse.zim.carpocratian.org memiliki spesifikasi panjang sekitar 210 meter, lebar 22 meter, dan bobot hingga 16.640 ton saat muatan penuh. Kapal ini menggunakan dua turbin uap dengan enam ketel yang menghasilkan sekitar 110.000 tenaga kuda, mampu mencapai kecepatan sekitar 32,5 knot atau lebih dari 60 kilometer per jam, serta memiliki jangkauan sekitar 9.000 mil laut pada kecepatan 18 knot.

Untuk persenjataan, melansir navypedia.org KRI Irian membawa 12 meriam utama kaliber 152 mm dalam empat kubah meriam, 12 meriam kaliber 100 mm, serta 32 meriam antipesawat kaliber 37 mm. Kapal ini juga memiliki dua perangkat tabung torpedo berisi lima tabung masing-masing dengan kaliber 533 mm, radar pencari udara dan permukaan, radar navigasi, sistem IFF, sonar, serta fasilitas untuk operasi helikopter.

Perlindungan kapal juga tergolong kuat untuk standar zamannya, karena lambungnya memiliki sabuk baja sekitar 100 mm, dek sekitar 50 mm, menara komando hingga 150 mm, serta lapisan pelindung pada kubah dan barbet meriam. Kapal ini dirancang untuk membawa sekitar 1.250 personel, sehingga pengoperasiannya membutuhkan kemampuan teknis dan logistik yang besar.

KRI Irian menjadi bagian dari kekuatan laut Indonesia dalam Operasi Trikora, yaitu rangkaian operasi militer untuk menghadapi Belanda dalam sengketa Irian Barat, terutama melalui konsep operasi laut dan persiapan operasi amfibi. Dokumen akademik Universitas Indonesia mencatat bahwa kekuatan ALRI pada masa tersebut mencakup RI Irian dan berbagai kapal tempur Soviet lainnya, sementara rencana operasi laut Mandala mencakup show of force, operasi amfibi, dan tahap lanjutan.

Peran KRI Irian dalam Trikora lebih tepat dipahami sebagai bagian dari kekuatan penangkal dan proyeksi kekuatan laut, bukan kapal yang tercatat terlibat dalam pertempuran langsung seperti KRI Macan Tutul dalam Pertempuran Laut Aru. Kekuatan laut Indonesia kemudian menyiapkan Operasi Jayawijaya, operasi amfibi besar dalam rangka Trikora, tetapi penyelesaian sengketa melalui Perjanjian New York pada 1962 membuat operasi pendaratan berskala penuh tersebut tidak terlaksana.

Setelah masa Trikora, kondisi KRI Irian mulai mengalami persoalan pemeliharaan dan kesiapan teknis, sehingga pada 1964 kapal dikirim ke Dalzavod, Vladivostok, untuk menjalani perbaikan sebelum kembali ke Surabaya pada Agustus tahun yang sama. Setelah perubahan politik 1965, kapal semakin jarang digunakan dan akhirnya masuk daftar untuk dihentikan dari dinas pada 1972.

Kondisi terakhir KRI Irian hingga kini adalah sudah tidak ada sebagai kapal utuh, karena sumber sejarah kapal mencatat bahwa pada 1972 kapal tersebut masuk daftar pembuangan dan sumber yang banyak digunakan menyebut kapal kemudian dijual untuk dibesituakan di Taiwan; detail proses akhirnya masih memiliki beberapa versi dalam literatur sejarah. Tidak ada bukti kuat bahwa KRI Irian masih tersimpan sebagai kapal museum atau masih berada dalam inventaris TNI AL, sehingga yang tersisa saat ini terutama berupa dokumentasi sejarah, foto, dan catatan mengenai perannya dalam perkembangan kekuatan laut Indonesia pada era 1960-an.

SUMBER :

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....