APINDO Sebut Mayoritas Pengangguran dari Gen Z, Capai 67 Persen
- 05 Agt 2026 10:48 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar – Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), Shinta Widjaja Kamdani, mengungkap tantangan besar yang masih membayangi dunia ketenagakerjaan nasional. Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah tingginya angka pengangguran dari kalangan Gen Z, yang disebut mencapai sekitar 67 persen dari total pengangguran di Indonesia.
Pernyataan tersebut disampaikan Shinta saat membuka Rapat Kerja dan Konsultasi Nasional (Rakerkonas) APINDO XXXV di Hotel Claro Makassar, Selasa 4 Agustus 2026. Menurutnya, kondisi ini menjadi sinyal bahwa Indonesia membutuhkan strategi baru agar Gen Z dapat terserap lebih banyak ke dalam dunia kerja formal.
Shinta menjelaskan, Gen Z merupakan generasi yang lahir pada rentang tahun 1997 hingga 2012 dan kini mulai mendominasi usia produktif. Di sisi lain, hampir 60 persen tenaga kerja Indonesia masih bekerja di sektor informal yang umumnya belum memiliki perlindungan kerja, kontrak resmi, maupun jaminan sosial.
"Artinya, tantangan kita hari ini bukan hanya menciptakan lapangan kerja, tapi juga menciptakan pekerjaan yang bisa lebih berkualitas dan berkelanjutan," kata Shinta Widjaja Kamdani.
Menurut Shinta, persoalan ketenagakerjaan tidak bisa diselesaikan hanya dengan merespons dampaknya, seperti meningkatnya angka pemutusan hubungan kerja (PHK). Pemerintah dan dunia usaha, kata dia, perlu memperbaiki akar persoalan melalui penguatan investasi, industri, serta peningkatan daya saing agar peluang kerja baru terus tercipta.
"Setiap pembahasan tentang investasi, industri, perdagangan, atau daya saing selalu bermuara pada satu tujuan, bagaimana bisa menciptakan iklim usaha yang kondusif, kompetitif, berkelanjutan, untuk penciptaan lapangan pekerjaan. Iklim usaha yang kondusif, kompetitif, dan berkelanjutan menjadi prasyarat utama agar investasi terus mengalir dan industri mampu menyerap lebih banyak tenaga kerja," ujarnya.
Ia mengakui dunia usaha saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Ketidakpastian ekonomi global, perubahan iklim, dinamika geopolitik, hingga meningkatnya biaya logistik, energi, dan bahan baku impor menjadi faktor yang membuat pelaku usaha harus beradaptasi dengan kondisi yang disebutnya sebagai new normal.
Shinta juga menyoroti maraknya pembahasan mengenai mitigasi PHK yang belakangan menjadi perhatian banyak pihak. Menurutnya, PHK bukanlah sumber utama persoalan, melainkan konsekuensi dari berbagai masalah yang terjadi pada sektor hulu sehingga pembenahan harus dimulai dari akar penyebabnya.
"PHK sejatinya hanyalah ujung dari persoalan yang telah lama terjadi di hulu. Karena itu kita tidak boleh hanya sibuk berdebat di hilir. Kita harus berani memperbaiki di hulunya," tegas Shinta. Ia berharap kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan pemangku kepentingan mampu menciptakan lebih banyak lapangan kerja berkualitas sehingga Gen Z dapat menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....