Gotong Royong Menguatkan Asa, Menghadirkan Kata Pertama

  • 31 Jul 2026 18:34 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID Makassar - Setiap pagi, suara tawa anak-anak terdengar dari sebuah ruangan sederhana berukuran sekitar dua kali dua meter di lantai dua Rumah Sakit Dadi Makassar. Ruangan itu mungkin tampak biasa bagi orang yang baru pertama kali melihatnya. Namun bagi puluhan orang tua, tempat tersebut adalah ruang penuh harapan.

Di sanalah anak-anak yang mengalami gangguan bicara berlatih mengucapkan kata demi kata, ditemani para terapis yang sabar mendampingi setiap proses tumbuh kembang mereka. Salah satunya adalah Nizam, bocah berusia tiga tahun yang selalu datang dengan senyum ceria.

Ia memahami banyak hal. Ia mengenali berbagai benda di sekitarnya, mampu membedakan mobil dan pesawat, bahkan cepat menangkap instruksi yang diberikan. Namun, mengucapkan kata-kata dengan jelas masih menjadi tantangan baginya.

Bersama terapis wicara di RS Dadi Makassar bernama Yuni, Nizam menyusun puzzle, menirukan bunyi, dan berlatih menggerakkan lidahnya. Setiap latihan sederhana menjadi langkah kecil menuju kemampuan berbicara yang lebih baik.

" Disini kami mengajarkan menyusun puzzle, melafalkan kata, mengenal benda dan menyebutkan nama benda . Nizam ini sudah mampu mengenal benda namun ia belum jelas menyebutkan nama benda tersebut" Ungkap Yuni Jumat 31 Juli 2026

Di ruang yang sama, Muhammad Attaf (7) juga menjalani terapi. Perjalanan menuju ruangan itu tidak mudah. Sang ibu, Ririn, mengaku pernah berpindah-pindah tempat terapi sebelum akhirnya mendapatkan layanan di Rumah Sakit Dadi Makassar melalui Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

"Sebelumnya biaya terapi cukup besar. Sekali terapi kami membayar hingga Rp 180 ribu, sementara dalam seminggu bisa tiga sampai empat kali," ujarnya.

Kini, perlahan perubahan mulai terlihat. Attaf menjadi lebih fokus, kemampuan bicaranya semakin berkembang, bahkan mulai belajar mengaji.

Kepala BPJS Kesehatan Cabang Makassar, dr. Prabowo, M.Kes., AAK menegaskan layanan terapi wicara hingga kini masih dijamin BPJS Kesehatan selama menjadi kebutuhan medis pasien.

"Terapi bicara sampai saat ini masih kami tanggung, tentunya sesuai dengan kebutuhan yang ditetapkan dokter. Selama menurut dokter masih diperlukan, maka layanan itu tetap dijamin JKN,"

Menurutnya, BPJS Kesehatan juga tidak menetapkan batas usia tertentu bagi peserta yang menjalani terapi wicara. Penghentian terapi sepenuhnya menjadi keputusan medis berdasarkan evaluasi dokter dan rekomendasi organisasi profesi.

Kepastian tersebut menjadi angin segar bagi banyak keluarga. Sebab, terapi wicara bukanlah proses yang memiliki batas waktu pasti. Ada anak yang membutuhkan waktu beberapa bulan, namun tidak sedikit yang harus menjalani terapi selama bertahun-tahun hingga perkembangan yang diharapkan benar-benar tercapai.

Selain memastikan terapi wicara tetap dijamin, BPJS Kesehatan juga terus melakukan transformasi pelayanan. Salah satunya melalui penerapan Kelas Rawat Inap Standar (KRIS) yang masih berjalan secara bertahap di rumah sakit. Meski demikian, Prabowo memastikan ketentuan kelas kepesertaan JKN belum berubah.

"Rumah sakit memang sudah didorong untuk menyediakan ruang rawat inap standar, tetapi untuk kepesertaan JKN masih tetap menggunakan kelas 1, kelas 2, dan kelas 3 dengan besaran iuran yang berlaku saat ini," ujarnya.

Transformasi pelayanan juga dilakukan melalui berbagai inovasi digital. Layanan administrasi PANDAWA kini dapat diakses selama 24 jam. BPJS Kesehatan juga mulai memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu mendeteksi potensi kecurangan sekaligus mempercepat proses administrasi.

Di sisi lain, layanan BPJS Keliling dan layanan virtual terus diperluas agar masyarakat di wilayah yang jauh dari kantor pelayanan tetap memperoleh akses administrasi JKN. BPJS Kesehatan juga mendukung berbagai program prioritas pemerintah, mulai dari pemantauan kesehatan penerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG), pemeriksaan kesehatan siswa di sekolah, hingga kerja sama dengan rumah sakit apung untuk menjangkau masyarakat di wilayah kepulauan dan daerah terpencil.

Di wilayah kerja BPJS Kesehatan Cabang Makassar yang meliputi Kota Makassar, Maros, Gowa, Takalar, dan Pangkep, cakupan kepesertaan JKN telah mencapai sekitar 99,4 persen atau 3,44 juta dari total 3,46 juta penduduk. Meski demikian, peserta yang berstatus aktif baru sekitar 2,78 juta jiwa atau 80,3 persen. Sementara di Kota Makassar, kepesertaan telah mencapai 99,8 persen dengan tingkat keaktifan sekitar 81,5 persen.

Prabowo menjelaskan sebagian besar peserta yang tidak aktif berasal dari peserta mandiri yang menunggak iuran maupun peserta yang sebelumnya ditanggung pemerintah tetapi status bantuannya telah berakhir. Karena itu, ia mengimbau masyarakat yang mengalami kesulitan ekonomi agar segera melapor ke Dinas Sosial sehingga dapat diusulkan sebagai peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI).

"Kami terus melakukan sosialisasi agar masyarakat memahami pentingnya menjaga kepesertaan JKN tetap aktif. Prinsip JKN adalah gotong royong, di mana peserta yang sehat membantu membiayai pelayanan kesehatan bagi peserta yang sedang sakit," katanya.

Semangat gotong royong itulah yang membuat pelayanan kesehatan tetap dapat diakses oleh masyarakat yang membutuhkan. Prabowo mencontohkan, pasien gagal ginjal yang menjalani cuci darah dapat memerlukan biaya sekitar Rp6,4 juta setiap bulan.

Melalui sistem JKN, peserta cukup membayar iuran sesuai ketentuan, sementara biaya pelayanan kesehatan ditanggung bersama melalui dana gotong royong seluruh peserta. Besarnya manfaat tersebut tercermin dari nilai klaim pelayanan kesehatan yang dibayarkan BPJS Kesehatan kepada fasilitas kesehatan di wilayah kerja Cabang Makassar yang mencapai sekitar Rp350 miliar hingga Rp400 miliar setiap bulan.

Kisah Nizam yang perlahan belajar mengucapkan kata pertamanya. Kisah Atafh yang kini semakin percaya diri berbicara dan bersiap masuk sekolah dasar. Kisah Fauzan yang akhirnya mampu membaca dengan lantang di depan kelas.

Bagi mereka, pelayanan kesehatan bukan sekadar tentang pengobatan. Pelayanan kesehatan adalah tentang kesempatan, kesempatan untuk tumbuh, belajar, bermimpi, dan menyongsong masa depan yang lebih baik.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....