Geopark Matano Menunggu SK Warisan Geologi Nasional

  • 22 Jun 2026 09:17 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Luwu Timur - Upaya menjadikan Kawasan Geopark Matano sebagai bagian dari jaringan Geopark Nasional terus bergerak maju. Setelah melalui berbagai tahapan, Pemerintah Kabupaten Luwu Timur kini memasuki fase krusial dengan menunggu terbitnya Surat Keputusan (SK) Penetapan Warisan Geologi (Geoheritage) Matano dari Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

SK tersebut menjadi salah satu kunci utama yang akan menentukan langkah selanjutnya dalam perjalanan panjang Danau Matano dan kawasan sekitarnya untuk memperoleh pengakuan sebagai Geopark Nasional.

Kepala Bidang Kemitraan dan Pengembangan Destinasi Pariwisata Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparmudora) Luwu Timur, Andi Irfan Saputra, mengatakan seluruh proses pengusulan masih berjalan sesuai tahapan dan saat ini fokus pada menunggu penetapan status Warisan Geologi dari pemerintah pusat.

“Masih berproses. Saat ini kami menunggu SK Warisan Geologi keluar,” kata Andi Irfan, Minggu 21 Juni 2026.

Pemerintah daerah berharap SK tersebut dapat diterbitkan pada Agustus mendatang sehingga tahapan pengusulan Geopark Matano menuju Geopark Nasional dapat segera dilanjutkan. “Harapannya bulan Agustus sudah bisa keluar,” ujarnya.

Keseriusan Pemerintah Kabupaten Luwu Timur dalam mendorong Geopark Matano memperoleh pengakuan nasional terlihat dari berbagai upaya yang dilakukan. Beberapa hari sebelumnya, Bupati Luwu Timur Irwan Bachri Syam bersama Tim Percepatan Penyusunan Dokumen Pengusulan Geopark Matano (TP2D-GM) melakukan audiensi dengan Badan Geologi Kementerian ESDM di Bandung, Jawa Barat.

Dalam pertemuan itu, Pemkab Luwu Timur meminta dukungan sekaligus melakukan koordinasi terkait percepatan penetapan keragaman geologi atau geodiversity Matano sebagai Warisan Geologi. Status tersebut merupakan syarat mendasar dalam proses pengusulan Geopark Nasional.

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, bahkan menyatakan dukungan penuh terhadap langkah yang ditempuh Pemkab Luwu Timur. Badan Geologi, kata dia, siap membantu percepatan proses verifikasi hingga penyelesaian administrasi penerbitan SK Warisan Geologi Matano. Dukungan tersebut menjadi angin segar bagi cita-cita menjadikan kawasan yang dikenal memiliki danau purba terdalam di Indonesia itu sebagai destinasi geowisata unggulan yang diakui secara nasional.

Perjalanan Geopark Matano ternyata bukan hanya soal mengejar status prestisius. Di balik itu, terdapat misi besar untuk menjaga kekayaan geologi, melestarikan lingkungan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan pariwisata berkelanjutan.

Karena itu, setelah berkoordinasi dengan Badan Geologi, Pemkab Luwu Timur telah menyiapkan langkah lanjutan dengan menggandeng Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas guna memperoleh asistensi penyusunan Rencana Induk Geopark Matano. “Rencananya setelah dari Badan Geologi, kami ke Bappenas untuk asistensi penyusunan Rencana Induk Geopark,” ungkap Andi Irfan.

Dokumen tersebut nantinya akan menjadi peta jalan pengelolaan Geopark Matano, mencakup aspek konservasi, edukasi, penelitian, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan geopark. Danau Matano selama ini dikenal sebagai salah satu danau purba tertua di dunia dan danau terdalam di Indonesia.

Kekayaan geologinya menyimpan nilai ilmiah yang tinggi serta menjadi habitat berbagai spesies endemik yang tidak ditemukan di tempat lain. Dengan status Geopark Nasional, kawasan ini diharapkan tidak hanya menjadi destinasi wisata, tetapi juga laboratorium alam yang mampu menghadirkan manfaat bagi pendidikan, penelitian, dan pembangunan ekonomi berbasis konservasi.

Kini, harapan itu berada di depan mata. Pemerintah Kabupaten Luwu Timur tinggal menanti terbitnya SK Warisan Geologi Matano, sebuah dokumen yang dapat membuka jalan bagi lahirnya salah satu geopark kebanggaan Sulawesi Selatan di panggung nasional.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....