Peneliti Ungkap Dampak Perubahan Iklim Memicu Masalah Sosial dan Ekonomi

  • 18 Jun 2026 10:51 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Monash University bekerja sama dengan Yayasan Tunas Aksara menggelar Lokakarya membahas Dampak Sosial Ekonomi akibat dari Perubahan Iklim. Diskusi tersebut yang mengangkat Tema" Empowering Communities Through Climate Resilience"melibatkan Universitas dan peneliti, Organisasi masyarakat sipil dan NGO, Kelompok perempuan dan komunitas lansia, Organisasi penyandang disabilitas, UMKM, koperasi, dan lembaga keuangan serta Media dan komunitas lokal, berlangsung di Swiss-Belhotel Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu 17 Juni 2026.

DR. Welmince Djulete, Mofcrec Project Manager, salah satu penyelenggara kegiatan Diskusi mengatakan bahwa forum yang digelar, membahas terfokus kepada alternatif ekonomi menghadapi dampak perubahan iklim. Tim peneliti menyikapi dampak perubahan iklim sangat besar dirasakan masyarakat yang mata pencahariannya seperti nelayan, petani mengakibatkan penghasilan mereka menurun, hasil pertanian mereka kualitasnya menurun. Dampak perubahan iklim itulah yang dirasakan masyarakat sehingga terjadi stres ekonomi di dalam keluarga.

"Dari hasil penelitian kami itu menunjukkan bahwa perubahan iklim itu dampak yang paling besar dirasakan oleh masyarakat pada mata pencaharian rendah, khususnya seperti nelayan, petani, jadi mereka itu tampaknya hasil pertanian atau hasil tangkapan ikan pun menurun, dalam bentuk kualitasnya menurun jadi akhirnya terjadilah stres ekonomi di dalam keluarga karena biasanya mungkin penghasilannya cukup tetapi karena ada perubahan iklim penghasilan mereka berkurang," ucap Welmince Djulete.

Dampak perubahan iklim sangat besar terhadap masyarakat pada penghasilannya rendah lanjut Welmince Djulete, membutuhkan strategi ketahanan iklim dan dukungan dari pemerintah, termasuk kebijakan untuk mendorong agar mereka memiliki penghasilan alternatif, tidak terfokus pada aktivitas ketika terjadi perubahan iklim kemudian penghasilannya menurun, bahkan pekerjaan mereka terhenti karena tidak bisa melaut akibat cuaca ekstrim.

"Ketahanan iklim ini perlu adanya dukungan dari pemerintah, termasuk kebijakan untuk mendorong karena sudah ada masyarakat mulai membuat produk-produk pengolahan ikan yang bukan hanya ikan segar tetapi dibuat, diolah sehingga harganya bisa lebih baik daripada hanya ikan segar yang bertahan mungkin hanya satu dua tiga hari saja tetapi produk ikan olahan bisa bertahan lama, itu contoh-contoh baik, kita bisa lihat ada beberapa produk abon ikan tuna yang masyarakat bawah ini untuk di Tunjukkan juga bagaimana cara pengolahannya,"Kata Welmince Djulete.

Sementara Direktur LBH APIK Sulsel, Rosmiati Sain salah satu narasumber Diskusi Empowering Communities Through Climate Resilience, mengatakan tantangan situasi yang dialami oleh warga pesisir bukan hanya persoalan cuaca ekstrem kemudian dampaknya terhadap permasalahan baru yang dialami. Dampak perubahan iklim mengakibatkan penghasilan suami meraka berkurang, sementara keluarganya banyak kebutuhannya, termasuk kebutuhan sekolah anaknya.

Dampak perubahan iklim ini lanjut Rosmiati Sain, mengakibatkan aktifitas Masyarakat pesisir terganggu, penghasilannya berkurang, yang dihasilkan tidak berkualitas sehingga tidak bisa memenuhi kebutuhan keluarganya membuat mereka harus mencari pinjaman. Untuk memudahkan mendapatkan pinjaman, kemudian mereka diiming imingi pinjaman rentenir yang ada disekitarnya sehingga menimbulkan masalah baru, harus mengembalikan pinjamannya dengan bunga berbunga.

"Kebutuhan masyarakat terdampak perubahan iklim menjadikan penghasilan mereka berkurang atau tidak ada lagi penghasilan, sementara banyak kebutuhan keluarganya otomatis mereka terinming-iming oleh rentenir yang ada di sekitarnya yang selama ini memberikan pinjaman keluarga tetapi itu kan modelnya jeratan Jadi kalau misalnya dia tidak bisa dibayar tepat waktu itu kan bunga berbunga maka menjadilah permasalahan baru, kekerasan ekonomi dialami mereka,"Ujar Rosmiati Sain.

Lebih lanjut Rosmiati Sain mengatakan ketika terjadi kekerasan ekonomi karena suami mereka tidak dapat menghasilkan adanya pemaksaan membayar pinjaman rentenir dengan bunga berbunga, biasanya terjadilah permasalah dalam kemuarga, hingga terjadi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) mengakibatkan terjadi persoalan pidana, akhirnya saling lapor.

Persoalan ekonomi dampak dari perubahan iklim ketika masyarakat sulit untuk bekerja, maka bisa terjadi pencurian, penipuan dan penggelapan karena persoalan kebutuhan kekuarganya maka ujung-ujungnya terkaitlah tindak pidana,"Tambahnya.

Prof. Sharyn Herb Feith Director Monash University yang juga peneliti dampak perubahan Iklim mengungkapkan, Timnya telah melakukan penelitian di tiga lokasi/daerah di Indonesia. Prof.Saryn melakukan penelitian di Makassar Provinsi Sulawesi Selatan, Lombok Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Kupang Provinsi Nusa tenggara Timur. Penelitian kepada masyarakat terdampak pada perubahan iklim untuk memastikan solusi apa terhadap Masyarat terdampak perubahan iklim di area penelitian yang biasanya pemerintah menganggap solusinya sama.

"Penelitian di Makassar, Lombok dan Kupang kami ingin melihat apa perbedaan antara daerah Provinsi lokasi penelitian, biasanya pemerintah menganggap solusi permasalahannya sama antara daerah dengan daerah lain terkait dengan dampak perubahan iklim tetapi dari hasil penetian kami lakukan, ditemukan dampak perubahan iklim antara daerah berbeda solusi permasalahan dengan daerah yang lain,"Ujar Prof.Saryn.

Menurutnya solusi permasalahan dampak perubahan iklim berbeda antara daerah dengan daerah yang lain, sehingga peneliti kerjasama dengan orang daerah setempat supaya diketahui solusi di suatu daerah dan dampak perubahan iklim di daerah tersebut. Sehingga jika ada perubahan iklim di daerah lokasi penelitian lalu apa dampak konteksnya. "Solusi perubahan iklim dilakukan strategi, solusi dan adaptasi dapat dimusayawarakan bersama di suatu kampung yang masyarakatnya terdampak perubahan iklim," katanya.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....