Menag: Isra Mikraj Ajarkan Kedekatan Hamba dengan Allah
- 08 Jan 2026 20:58 WIB
- Makassar
KBRN, Bone : Menteri Agama RI Nasaruddin Umar menegaskan bahwa esensi utama Isra Mikraj bukan sekadar perjalanan fisik Nabi Muhammad SAW, melainkan pengalaman ruhani tertinggi seorang hamba saat berada dalam kedekatan maksimal dengan Allah SWT. Hal itu disampaikannya saat memberikan tausiah pada Haul ke-56 Pondok Pesantren Al Junaidiyah Biru, Kabupaten Bone, Rabu (7/1/2026).
Dalam pemaparannya, Menag mengajak jamaah memahami Surah Al-Isra ayat 1 secara lebih mendalam. Ia menjelaskan bahwa lafaz Subhanalladzi asra menjadi penanda bahwa Isra Mikraj merupakan peristiwa agung yang melampaui batas logika manusia dan tidak dapat dijelaskan melalui pendekatan ilmiah semata. “Peristiwa Isra Mikraj adalah kejadian yang berada di luar nalar manusia. Karena itu diawali dengan kata subhana, sebagai penegasan kemahakuasaan Allah atas sesuatu yang tidak terjangkau akal,” ungkap Menag.
Lebih lanjut, Menag menyoroti penggunaan kata bi’abdihi dalam ayat tersebut. Menurutnya, Al-Qur’an menekankan bahwa yang diangkat bukan nama Nabi, melainkan kualitas kehambaan Rasulullah SAW. “Ini menunjukkan bahwa yang dapat mencapai Sidratul Muntaha adalah seorang hamba yang memiliki kedekatan spiritual yang kuat dengan Tuhannya. Kehambaan itulah kunci perjalanan Isra Mikraj,” jelasnya.
Menag juga menjelaskan bahwa pelaksanaan Isra Mikraj pada malam hari memiliki makna spiritual yang mendalam. Malam dipandang sebagai waktu paling tenang dan jernih untuk perjalanan batin. “Di malam hari, manusia lebih mudah berkonsentrasi dan bermunajat. Karena itu salat disebut sebagai mi’raj bagi orang beriman, sebab di situlah ruh berkomunikasi langsung dengan Allah,” tuturnya.
Tak hanya itu, Menag mengingatkan bahwa makna masjid tidak sebatas bangunan fisik. Ia menekankan bahwa seluruh tubuh manusia sejatinya adalah tempat sujud yang harus dijaga kesuciannya, baik lahir maupun batin. “Membersihkan diri bukan hanya soal pakaian atau tubuh, tetapi juga membersihkan organ dari dosa. Wudu adalah sarana pendidikan spiritual agar manusia senantiasa menjaga kesucian dirinya,” tambahnya.
Di hadapan ribuan santri, Menag turut memotivasi generasi pesantren agar bangga menempuh pendidikan di pondok. Menurutnya, pesantren merupakan investasi penting bagi kehidupan dunia dan akhirat. Pada kesempatan tersebut, Kementerian Agama RI juga menyerahkan bantuan sebesar Rp200 juta kepada Pondok Pesantren Al Junaidiyah Biru sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan pendidikan dan pemberdayaan pesantren di Indonesia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....