EMT Unismuh Makassar Layani Pengungsi Desa Serba

  • 28 Des 2025 23:09 WIB
  •  Makassar

KBRN,Aceh: Banjir dan longsor yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang masih menyisakan persoalan serius bagi warga, terutama terkait akses layanan kesehatan. Di Desa Serba, Kecamatan Bandar Pusaka, sejumlah keluarga hingga kini masih bertahan di tenda pengungsian karena rumah mereka rusak berat dan tertimbun lumpur pascabanjir yang terjadi beberapa waktu lalu.

Kondisi tersebut diperparah dengan akses transportasi yang belum sepenuhnya pulih. Jembatan utama menuju Desa Serba masih putus, sehingga warga harus memutar jauh melalui Kuala Simpang untuk menjangkau fasilitas kesehatan terdekat. Situasi ini membuat sebagian besar warga kesulitan mendapatkan layanan medis secara mandiri.

Merespons kondisi tersebut, Emergency Medical Team (EMT)–MDMC Universitas Muhammadiyah Makassar membuka posko layanan kesehatan langsung di titik pengungsian, yakni TK Serba Ceria dan rumah warga di Dusun Serba Luar, Sabtu, 27 Desember 2025. Pada hari itu, tim melayani sebanyak 46 warga, terdiri dari 13 laki-laki dan 33 perempuan dari berbagai kelompok usia.

Ketua EMT Unismuh Makassar, dr. Muh. Ihsan Kitta, Sp.OT, mengatakan layanan kesehatan di Desa Serba difokuskan untuk menjangkau warga yang belum dapat mengakses fasilitas kesehatan akibat hambatan transportasi dan kerusakan permukiman. “Sebagian besar warga masih berada di tenda atau pengungsian karena rumah mereka rusak berat dan tertimbun lumpur. Akses juga belum lancar, jadi layanan harus kami dekatkan ke lokasi,” ujar Ihsan saat dikonfirmasi melalui WhatsApp, Ahad, 28 Desember 2025.

Secara kumulatif, sejak 22 hingga 27 Desember 2025, EMT–MDMC Unismuh Makassar mencatat telah melayani 521 warga terdampak banjir dan longsor di Aceh Tamiang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 170 pasien laki-laki dan 351 pasien perempuan mendapatkan layanan pemeriksaan, pengobatan, serta edukasi kesehatan di berbagai titik layanan yang dibuka tim.

Data gangguan kesehatan menunjukkan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) masih menjadi keluhan paling dominan dengan total 179 kasus. Keluhan lain yang banyak ditemukan adalah hipertensi sebanyak 69 kasus, nyeri otot atau myalgia 56 kasus, tinea pedis atau infeksi jamur kaki 46 kasus, serta dispepsia atau gangguan lambung sebanyak 36 kasus. Pola penyakit ini dinilai berkaitan erat dengan kondisi lingkungan pascabanjir yang lembap dan aktivitas pembersihan yang berat.

Menurut Ihsan, kombinasi penyakit infeksi, penyakit tidak menular, serta keluhan akibat kelelahan merupakan gambaran umum kesehatan warga pascabanjir. “Kondisi tempat tinggal yang lembap, aktivitas pembersihan lumpur, serta keterbatasan sanitasi ikut memengaruhi munculnya keluhan-keluhan tersebut,” katanya. Meski demikian, selama periode layanan tersebut tidak ditemukan kasus yang memerlukan rujukan ke fasilitas kesehatan lanjutan.

Selain layanan medis, EMT–MDMC Unismuh Makassar juga memberikan edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), terutama terkait cuci tangan pakai sabun sebagai langkah pencegahan penyakit. Dalam kerja kolaboratif bersama MDMC Pusat dan Mahtan, tim juga menyalurkan bantuan logistik berupa 250 kilogram beras, 100 unit kelambu, serta total 300 paket hygiene kit yang dibagikan sejak 23 hingga 27 Desember 2025.

Ihsan menegaskan bahwa layanan kesehatan di Desa Serba merupakan bagian dari upaya pemulihan kehidupan warga dari aspek paling mendasar. “Kesehatan adalah pintu awal pemulihan. Ketika warga mulai bisa tidur tanpa gatal, tanpa sesak, dan tanpa cemas karena obat tidak tersedia, mereka akan lebih siap menata kembali kehidupannya pascabanjir,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....