Kacipo, Kue Legendaris Tradisional Bugis yang Terancam Punah
- 28 Mar 2026 13:30 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Wajo - Di tengah gempuran aneka kue modern dengan kemasan kekinian, kuliner tradisional Bugis perlahan mulai kehilangan panggungnya. Salah satu yang paling terdampak adalah Kacipo, kue kering legendaris berbahan dasar wijen yang dahulu menjadi primadona di setiap meja tamu masyarakat Sulawesi Selatan. Teksturnya yang renyah dengan perpaduan rasa manis dan gurih kini semakin sulit ditemukan, seolah tenggelam oleh popularitas camilan impor dan kue-kue berbahan dasar kacang yang lebih praktis diproduksi secara massal.
Dahulu, Kacipo bukan sekadar camilan biasa, melainkan simbol kehangatan dalam silaturahmi. Kue kecil berbentuk bulat atau lonjong yang diselimuti biji wijen ini selalu menjadi incaran anak-anak maupun orang dewasa. Aroma khas wijen yang disangrai memberikan sensasi rasa autentik yang tidak dimiliki oleh camilan modern. Namun, pergeseran selera lidah generasi muda dan munculnya berbagai inovasi kue berbahan cokelat dan keju membuat eksistensi Kacipo kian terhimpit dan terancam punah.
Kondisi memprihatinkan ini dirasakan langsung oleh H. Darawisah, salah seorang pembuat kue Kacipo kawakan di Desa Ongkoe. Beliau mengenang masa-masa kejayaan kue ini, di mana dapur rumahnya tidak pernah berhenti mengepul demi memenuhi permintaan pelanggan. Baginya, Kacipo bukan sekadar adonan tepung dan wijen, melainkan warisan budaya yang ia jaga dengan sepenuh hati selama puluhan tahun di desanya.
"Dulu, kalau sudah mau dekat Lebaran, saya sampai kewalahan melayani pesanan. Orang-orang dari berbagai daerah datang mencari Kacipo untuk disajikan saat hari raya," kenang H. Darawisah dengan nada getir. Saat itu, hiruk pikuk pesanan menjadi berkah tahunan yang dinanti. Kesibukan menimbang bahan dan menggoreng adonan hingga kecokelatan menjadi rutinitas yang memberikan kepuasan tersendiri baginya sebagai seorang perajin kuliner tradisional.
Namun, pemandangan sibuk itu kini tinggal kenangan. H. Darawisah mengaku sudah cukup lama tidak lagi memproduksi Kacipo secara rutin. Jarangnya pesanan yang masuk menjadi alasan utama mengapa ia memilih untuk berhenti sejenak. Minimnya minat pasar membuat pembuatan kue ini dianggap kurang ekonomis lagi, apalagi proses pembuatannya membutuhkan ketelatenan ekstra agar wijen dapat menempel sempurna dan kue tetap renyah saat digigit.
Nasib Kacipo di Desa Ongkoe menjadi potret kecil dari pudarnya kekayaan kuliner nusantara. Jika tidak ada upaya pelestarian atau regenerasi dari tangan-tangan muda, bukan tidak mungkin nama Kacipo hanya akan menjadi catatan kaki dalam sejarah kuliner Bugis. Diperlukan kesadaran kolektif untuk kembali mencintai produk lokal agar dapur para pembuat kue tradisional seperti H. Darawisah bisa kembali mengepul dan menyajikan kelezatan warisan nenek moyang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....