Tape Ketan, Hidangan Pencuci Mulut Wajib Masyarakat Bugis

  • 28 Mar 2026 10:26 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Perayaan Idul Fitri bagi masyarakat Bugis tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga momentum pelestarian kuliner khas yang sarat akan makna. Salah satu hidangan yang tidak pernah absen menghiasi meja tamu adalah tape ketan. Kudapan hasil fermentasi ini telah menjadi ikon kuliner yang kehadirannya selalu dinantikan setiap tahun sebagai pelengkap kemeriahan hari kemenangan.

Seperti dikutip dari berbagai sumber, tape yang dibuat oleh masyarakat Bugis umumnya menggunakan bahan dasar beras ketan, baik ketan putih maupun ketan hitam. Proses pembuatannya membutuhkan ketelitian khusus, mulai dari pencucian beras, pengukusan, hingga pemberian ragi yang pas. Rasa manis yang dihasilkan secara alami dari proses fermentasi inilah yang membuat tape memiliki cita rasa unik dan menyegarkan bagi siapa saja yang mencicipinya.

Dalam penyajiannya, tape ketan jarang dinikmati sendirian. Masyarakat setempat memiliki tradisi unik menyandingkan tape dengan burasa pulu bolong atau buras ketan hitam. Perpaduan antara rasa gurih dari buras yang dimasak dengan santan serta rasa manis asam dari tape menciptakan harmoni rasa yang sangat khas. Kombinasi ini telah menjadi standar hidangan Lebaran yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Selain sebagai camilan utama, tape juga memegang peranan penting sebagai makanan pencuci mulut atau dessert. Setelah menyantap hidangan berat yang bersantan dan berlemak seperti opor atau coto, rasa manis dan dingin dari tape dipercaya dapat menetralkan lidah. Oleh karena itu, banyak keluarga yang sengaja membuat tape dalam jumlah besar agar bisa dinikmati oleh seluruh kerabat yang datang berkunjung.

Salah seorang warga di Makassar, Yandang, mengungkapkan bahwa kebiasaan membuat tape ini merupakan tradisi turun-temurun yang tidak boleh terlewatkan. "Ada rasa yang kurang lengkap jika hari raya Idul Fitri dilalui tanpa aroma khas tape di dalam rumah. Membuat tape bukan sekadar menyiapkan makanan, melainkan upaya menjaga warisan leluhur agar tetap hidup di tengah modernitas, "ungkapnya. Sabtu, 28 Maret 2026.

Tradisi ini membuktikan bahwa nilai-nilai budaya masyarakat Bugis masih tertanam kuat melalui media kuliner. Tape ketan bukan hanya sekadar kudapan manis, melainkan simbol kebersamaan dan penghormatan terhadap tradisi keluarga. Hingga saat ini, kemeriahan Lebaran di Sulawesi Selatan tetap identik dengan kehadiran mangkuk-mangkuk berisi tape ketan yang siap menyambut para tamu dengan rasa manis yang autentik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....