Kanre Santang Dan Nasi Uduk, Serupa Tapi Tidak Sama
- 10 Agt 2025 18:18 WIB
- Makassar
KBRN Makassar, kanre santan sering dipendekkan menjadi kanse di kalangan masyarakat Bugis dan Parepare adalah sajian nasi yang dimasak menggunakan santan sehingga menghasilkan tekstur lembut dan rasa gurih khas kelapa. Dalam konteks kuliner Sulawesi Selatan, kanre santan memiliki akar budaya yang sama dengan nasi uduk namun mengalami penyesuaian sesuai budaya kuliner daerah Sulawesi Selatan dimana kanre santan lebih dipandang sebagai cara memasak nasi yang menonjolkan rasa santan dan biasanya disajikan bersama lauk-pauk lokal seperti palekko, ikan bakar, atau sambal khas daerah.
Sedangkan nasi uduk menurut wikipedia adalah hidangan khas Betawi yang berupa nasi yang dimasak dengan santan, tetapi khasnya terletak pada penggunaan rempah-rempah (mis. serai, daun salam, daun pandan) dan cara penyajian yang sudah menjadi tradisi Jakarta sering dilengkapi telur balado, orek tempe, bihun, tahu/tempe, dan kerupuk. Asal-usul nasi uduk memiliki pengaruh Melayu dan Jawa dan perkembangannya sangat terkait dengan budaya makanan Betawi.
Dari segi bumbu dan aromatik, perbedaan terasa pada komposisi rempah: kanre santan cenderung sederhana fokus pada santan dan garam sehingga rasa kelapa lebih dominan sedangkan nasi uduk umumnya diberi tambahan rempah aromatik seperti serai dan daun pandan yang memberi aroma khas serta memberi lapisan rasa yang lebih kompleks. Perbedaan ini membuat meskipun kedua hidangan sama-sama “nasi santan”, citarasa akhir dan aroma yang muncul dapat cukup berbeda.
Teknik memasak juga bisa berbeda: kanre santan di beberapa daerah Sulawesi kerap dimasak secara sederhana, kadang cukup dengan santan kental dan daun pisang untuk membungkus saat dikukus atau langsung dimasak di panci, sedangkan nasi uduk tradisional Betawi sering dimasak dengan merebus beras bersama santan dan rempah, atau dikukus setelah perendaman, demi memperoleh tekstur dan aroma yang khas. Perbedaan teknik ini mempengaruhi tekstur butir nasi (lebih pulen/lebih “lembut” pada kanre, dan lebih harum/terpisah pada beberapa versi nasi uduk).
Dalam kebiasaan penyajian, nasi uduk di Jakarta populer sebagai menu sarapan yang komprehensif dengan sederet lauk pelengkap yang menjadi bagian integral pengalaman makan seperti telur, tempe, bihun, sambal. Sedangkan kanre santan lebih sering menjadi pendamping hidangan khas Bugis seperti palekko, ikan, atau sayur-sayuran pedas, dan kerap muncul pada menu keluarga atau acara lokal. Dengan kata lain, nasi uduk sering ‘tersusun’ dalam paket lengkap, sedangkan kanre lebih berperan sebagai fondasi nasi gurih bagi lauk lokal.
Nasi uduk melekat pada identitas kuliner Betawi dan nilai-nilai urban Jakarta, sementara kanre santan merefleksikan tradisi kuliner Bugis dan Makassar yang menonjolkan bahan lokal dan pasangan lauk laut atau pedas. Perbedaan penamaan kanre santan menjadi kanse juga menunjukkan cara komunitas lokal memberi nama dan mempraktekkannya secara turun-temurun.
walau keduanya berbagi prinsip dasar beras yang diberi santan, kanre santan dan nasi uduk berbeda pada detail komposisi rempah dan aromatik, teknik pengolahan, pola penyajian, serta kaitan kulturalnya. Menikmati keduanya memberi pengalaman rasa yang sama-sama “gurih” namun tetap unik karena latar budaya dan cara olah yang berbeda.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....