Bento, Budaya Bekal asal Jepang yang Populer di Indonesia.

  • 18 Mei 2025 19:48 WIB
  •  Makassar

KBRN, Makassar: Tradisi ataupun kebiasaan membawa bekal makan dari rumah saat berangkat kerja atau perjalanan liburan merupakan budaya manusia sejak dahulu kala, salah satunya adalah Bento adalah tradisi membawa bekal makan khas Jepang yang justru telah menjadi bagian penting dari budaya kuliner negara tersebut. Lebih dari sekadar makanan, bento mencerminkan nilai estetika, keseimbangan nutrisi, dan ekspresi kasih sayang dalam budaya Jepang. Di Indonesia, bento telah mendapatkan tempat tersendiri di hati masyarakat, baik sebagai inspirasi bekal harian maupun sajian di restoran bertema Jepang.

Dilansir dari wikipedia.org sejarah bento berawal sejak abad ke-5, ketika masyarakat Jepang membawa hoshi-ii (nasi kering) saat berburu atau bertani. Pada periode Edo (1603–1868), bento mulai berkembang menjadi sajian yang lebih kompleks dan estetik, seperti makunouchi bento yang dinikmati saat menonton teater kabuki. Bento tidak hanya berfungsi sebagai bekal praktis, tetapi juga sebagai simbol perhatian dan cinta dari pembuatnya kepada penerima.

Beragam jenis bento muncul seiring waktu, seperti kyaraben (character bento) yang menampilkan makanan dalam bentuk karakter lucu untuk menarik minat anak-anak, ekiben yang dijual di stasiun kereta dengan cita rasa khas daerah, serta koraku bento yang disiapkan untuk piknik bersama keluarga atau teman. Setiap jenis bento memiliki keunikan tersendiri dalam penyajian dan fungsinya.

Di Indonesia, popularitas bento meningkat seiring dengan minat masyarakat terhadap budaya Jepang. Restoran bertema Jepang banyak menghadirkan menu bento yang disesuaikan dengan selera lokal, seperti penambahan sambal dan cita rasa yang lebih kuat. Selain itu, banyak orang tua di Indonesia yang mulai membuat bento ala kyaraben untuk bekal anak-anak mereka, menjadikannya sebagai bentuk kasih sayang dan kreativitas.

Filosofi di balik bento juga menarik untuk disimak. Dalam budaya Jepang, menyusun bento dengan rapi dan menarik bukan hanya untuk estetika, tetapi juga sebagai wujud perhatian terhadap kesehatan dan kebahagiaan penerima. Konsep gochisōsama (ungkapan terima kasih setelah makan) mencerminkan rasa syukur atas makanan yang disiapkan dengan penuh cinta dan usaha.

Bento menjadi medium ekspresi seni dan kreativitas. Di Indonesia, tren ini mendorong munculnya kelas-kelas membuat bento dan workshop yang mengajarkan teknik penyusunan makanan yang menarik dan sehat.

Tradisi Bento mengajarkan bahwa dengan membawa bekal bukan sekadar menghemat biaya, tetapi juga cara untuk menunjukkan perhatian dan cinta kepada orang-orang terdekat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....