Buras dan Ketupat Ikon Kuliner tak Terpisahkan di Perayaan Idul Fitri
- 01 Apr 2025 10:45 WIB
- Makassar
KBRN,Makassar: Indonesia, sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim terbesar di dunia, memiliki tradisi unik dan kaya dalam merayakan Hari Raya Idul Fitri. Selain ibadah dan silaturahmi, hidangan khas menjadi bagian tak terpisahkan dari kemeriahan Lebaran. Dua di antaranya yang paling ikonik dan hampir selalu hadir di meja makan setiap keluarga adalah buras dan ketupat. Kehadiran keduanya bukan sekadar pelengkap, melainkan menyimpan sejarah dan makna budaya yang mendalam.
Buras, dengan teksturnya yang lembut dan rasa gurih santan yang meresap, merupakan hidangan nasi yang dibungkus daun pisang muda. Proses pembuatannya yang memerlukan keahlian khusus dan waktu yang cukup lama menjadikannya simbol kesabaran dan gotong royong. Masyarakat seringkali bekerja sama dalam membuat buras, mulai dari menyiapkan bahan hingga proses membungkus dan merebusnya. Tradisi ini mempererat tali persaudaraan dan kebersamaan antarwarga.
Sementara itu, ketupat memiliki bentuk yang unik, anyaman janur kelapa muda yang membentuk kantong berlian atau segi empat. Di dalamnya terisi beras yang kemudian dimasak hingga matang dan padat. Bentuk ketupat yang khas ini juga memiliki filosofi tersendiri. Anyaman janur melambangkan kerumitan hidup, sementara beras di dalamnya yang berwarna putih setelah matang melambangkan kesucian dan kebersihan hati setelah menjalani ibadah puasa Ramadan.
Dikutip dari laman Wikipedia akar tradisi ini diperkirakan berasal dari masa lampau, jauh sebelum Islam masuk ke Nusantara. Beberapa ahli sejarah menduga bahwa ketupat telah menjadi bagian dari ritual kesuburan dan panen pada masyarakat agraris di Jawa dan sekitarnya. Ketika Islam mulai menyebar, para wali songo, tokoh penyebar agama Islam di Jawa, mengadaptasi tradisi ini dan memberinya makna Islami.
Sunan Kalijaga, salah satu wali songo yang terkenal, diyakini sebagai tokoh yang mengenalkan tradisi ketupat pada perayaan Idul Fitri. Beliau menggunakan ketupat sebagai media dakwah untuk menyebarkan ajaran Islam. Bentuk segi empat ketupat diartikan sebagai empat kiblat, atau empat penjuru mata angin yang melambangkan ajaran Islam yang universal. Isi ketupat yang berwarna putih melambangkan kesucian hati setelah berpuasa.
Selain itu, tradisi menyantap ketupat bersama-sama setelah salat Idul Fitri juga memiliki makna silaturahmi dan kebersamaan. Membuka anyaman ketupat dan menikmati isinya bersama keluarga dan kerabat menjadi simbol saling memaafkan dan memulai lembaran baru setelah bulan Ramadan. Buras pun memiliki fungsi serupa, seringkali disajikan sebagai hidangan utama pendamping opor ayam atau rendang, melengkapi kehangatan suasana Lebaran.
Dengan demikian, buras dan ketupat bukan hanya sekadar hidangan lezat yang memanjakan lidah saat Idul Fitri. Keduanya adalah simbol budaya yang kaya akan makna filosofis dan sosial. Kehadirannya mengingatkan kita akan nilai-nilai kesabaran, gotong royong, kesucian hati, persatuan, dan silaturahmi yang menjadi esensi dari perayaan Hari Raya Idul Fitri di Indonesia. Tradisi ini terus diwariskan dari generasi ke generasi, memperkuat identitas budaya dan keagamaan masyarakat Indonesia.
Keberadaan buras dan ketupat yang tak lekang oleh waktu menunjukkan betapa kuatnya akar tradisi ini dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Di tengah arus modernisasi dan beragamnya pilihan kuliner, buras dan ketupat tetap menjadi primadona di meja makan saat Lebaran, menjadi penanda sukacita dan kebersamaan yang selalu dinantikan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....