Pia Tionghoa: Sejarah dan makna Kuliner Budaya
- 10 Feb 2025 11:03 WIB
- Makassar
KBRN, Makassar: Pia Tionghoa bukan sekadar makanan ringan, tetapi juga memiliki nilai sejarah dan filosofi mendalam dalam budaya masyarakat Tionghoa. Kue berbentuk bulat ini kerap hadir dalam berbagai perayaan, terutama saat Imlek, sebagai simbol kebersamaan dan harapan akan kehidupan yang harmonis. Selain itu, pia juga menjadi salah satu bentuk penghormatan kepada leluhur, sebagaimana tradisi yang telah berlangsung sejak ratusan tahun lalu.
Eidi Hartono, produsen kuliner khas Tionghoa, mengungkapkan bahwa Pia telah menjadi bagian dari budaya yang mengakar di berbagai belahan dunia. Menurutnya, Pia Tionghoa memiliki akar sejarah panjang yang berasal dari Dinasti Ming di Tiongkok. "Asal-usul Pia ini sebenarnya berasal dari Dinasti Ming dan awalnya digunakan sebagai sesajian untuk penghormatan leluhur. Seiring waktu, Pia berkembang menjadi simbol kebersamaan dan sering dibagikan kepada sahabat serta keluarga," ungkapnya pada program Obrolan Nusantara Siang di RRI Pro 4 Makassar bersama host Richard Ferdinand.
Pia memiliki bentuk bulat yang melambangkan keutuhan dan keseimbangan hidup, yang sangat dihargai dalam filosofi Tionghoa. Kepercayaan ini berkaitan erat dengan konsep keharmonisan dalam keluarga, dimana Pia sering disajikan sebagai hidangan wajib saat berkumpul bersama. Selain itu, pemilihan rasa manis pada Pia juga bukan sekadar selera, tetapi memiliki makna yang lebih dalam. "Rasa manis pada Pia bukan sekadar soal cita rasa, tetapi juga simbol harapan. Kita semua ingin hidup yang manis, rezeki yang manis, dan masa depan yang penuh kebaikan," tambah Eidi.
Sebagai generasi ketiga yang meneruskan usaha keluarga, Eidi Hartono terus berinovasi untuk mempertahankan tradisi Pia Tionghoa. "Kami tidak mengubah cita rasa dasar Pia karena di sanalah nilai tradisinya. Orang bisa mencoba berbagai pilihan, tetapi tetap akan kembali ke rasa asli yang sudah menjadi bagian dari sejarah," ujarnya. Meskipun kini tersedia dalam berbagai varian seperti cokelat, keju, dan durian, Pia klasik dengan isian kacang hijau tetap menjadi favorit karena mempertahankan rasa otentik yang diwariskan turun-temurun.
| Baca juga: Mie Kering Makassar yang Melegenda |
Selain sebagai warisan kuliner, Pia juga menjadi bagian dari identitas budaya yang terus dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat Tionghoa di Indonesia. Eidi berharap generasi muda semakin mengenal dan mencintai kuliner tradisional ini, bukan hanya sebagai makanan, tetapi juga sebagai simbol budaya yang kaya makna. (Ainiyah Athifah Nur Fahira)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....