Inovasi Pia Tionghoa, Menjaga Warisan dengan Sentuhan Baru

  • 10 Feb 2025 09:53 WIB
  •  Makassar

KBRN, Makassar: Pia Tionghoa telah lama menjadi bagian dari tradisi kuliner khas Tionghoa, khususnya dalam perayaan Imlek dan berbagai acara tradisi lainnya. Seiring perkembangan zaman, kue ini mengalami berbagai inovasi agar tetap relevan dan diminati oleh masyarakat, terutama generasi muda.

Dalam wawancara Program Obrolan Kuliner, Nusantara Siang – RRI Pro 4 Makassar, Eidi Hartono, produsen kuliner khas Tionghoa, menekankan bahwa inovasi dalam pembuatan Pia sangat penting untuk mempertahankan eksistensinya. "Kami tetap mempertahankan resep tradisional, tetapi menyesuaikan dengan selera masa kini. Sekarang ada varian rasa seperti coklat, keju, dan durian untuk menarik minat generasi muda. Rasa klasik tetap kami pertahankan, tetapi model-model baru seperti greentea dan pandan juga kami hadirkan untuk mengikuti selera anak zaman sekarang," ungkapnya.

Meskipun mengalami modernisasi, proses pembuatan Pia tetap mengutamakan bahan berkualitas tinggi. Eidi Hartono menegaskan bahwa penggunaan bahan-bahan alami dari Indonesia menjadi faktor utama dalam menjaga cita rasa khas Pia. "Kami tidak menggunakan bahan impor. Semua rempah-rempah dan bahan utama berasal dari Indonesia, sehingga kualitas dan keasliannya tetap terjaga," katanya.

Inovasi dalam metode produksi juga membawa perubahan besar. Jika dulu Pia dibuat secara manual dengan oven batu, kini prosesnya lebih efisien dengan penggunaan mesin modern. "Dulu kami mengaduk adonan dengan tangan dan memanggangnya di oven batu selama 24 jam. Sekarang, kami menggunakan mesin adonan dan oven modern tanpa mengubah cita rasa aslinya," jelasnya.

Selain efisiensi waktu, modernisasi dalam produksi juga berdampak pada konsistensi kualitas. Penggunaan mesin memungkinkan setiap Pia memiliki tekstur dan kematangan yang lebih merata dibandingkan dengan metode tradisional. Dengan teknologi yang lebih canggih, produsen dapat meningkatkan kapasitas produksi tanpa mengorbankan cita rasa khas yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Inovasi ini juga diikuti dengan strategi pemasaran yang lebih luas. Pia kini dipasarkan secara digital melalui berbagai platform e-commerce dan media sosial, sehingga lebih mudah diakses oleh konsumen di luar Makassar, bahkan hingga ke luar negeri. Eidi Hartono berharap inovasi yang dilakukan dapat menjaga eksistensi Pia di tengah gempuran kuliner modern. "Pia Tionghoa bukan hanya makanan, tetapi juga warisan budaya. Dengan inovasi yang tepat, kami ingin Pia tetap dikenal dan dicintai oleh semua generasi," tutupnya. (Ainiyah Athifah Nur Fahira)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....