Mengenal Borderline Personality Disorder

  • 29 Sep 2026 14:26 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Borderline Personality Disorder (BPD) atau gangguan kepribadian ambang merupakan salah satu kondisi kesehatan mental yang dapat memengaruhi cara seseorang mengelola emosi, memandang dirinya sendiri, serta berhubungan dengan orang lain. Kondisi ini bukan sekadar perubahan suasana hati biasa, karena gejalanya dapat mengganggu kehidupan sehari-hari dan hubungan interpersonal. Menurut National Institute of Mental Health (NIMH), BPD berkaitan dengan kesulitan mengatur emosi, perilaku impulsif, perubahan atau ketidakstabilan citra diri, serta hubungan yang dapat menjadi sangat intens dan tidak stabil.

Salah satu ciri yang sering muncul pada BPD adalah perubahan emosi yang intens. Seseorang dapat mengalami perasaan sangat sedih, marah, cemas, kosong, atau takut ditolak dalam waktu yang relatif singkat. NIMH menjelaskan bahwa episode perubahan emosi pada BPD dapat berlangsung selama beberapa jam hingga beberapa hari. Namun, pengalaman setiap orang berbeda dan tidak semua orang dengan BPD mengalami seluruh gejala yang sama, sehingga kondisi ini perlu dipahami secara individual dan tidak berdasarkan satu gejala saja.

BPD juga dapat memengaruhi cara seseorang memandang dirinya dan orang-orang di sekitarnya. Dalam situasi tertentu, seseorang mungkin memiliki rasa percaya diri yang berubah-ubah, merasa tidak memiliki identitas yang jelas, atau sangat sensitif terhadap kemungkinan ditinggalkan. Hubungan dengan keluarga, teman, atau pasangan pun dapat terasa sangat dekat pada satu waktu dan kemudian menjadi penuh konflik pada waktu lain. NIMH mencatat bahwa ketakutan terhadap penolakan atau pengabaian, hubungan yang tidak stabil, serta perasaan hampa merupakan beberapa pengalaman yang dapat muncul pada BPD.

Selain perubahan emosi dan hubungan interpersonal, sebagian orang dengan BPD dapat mengalami perilaku impulsif. Bentuknya dapat berbeda-beda, misalnya pengeluaran berlebihan, penggunaan zat, perilaku seksual yang berisiko, makan berlebihan, atau tindakan lain yang dilakukan tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang. NIMH juga menyebutkan adanya risiko perilaku menyakiti diri dan pikiran untuk bunuh diri pada sebagian orang dengan BPD. Karena itu, tanda-tanda menyakiti diri atau pikiran bunuh diri perlu ditanggapi secara serius dan mendapatkan bantuan profesional secepatnya.

Diagnosis BPD tidak dapat ditentukan hanya melalui tes singkat atau mencocokkan diri dengan daftar gejala di internet. Menurut NIMH, diagnosis dilakukan oleh tenaga kesehatan mental yang berkualifikasi melalui pembahasan mengenai gejala, riwayat pribadi dan keluarga, serta kondisi lain yang mungkin memiliki gejala serupa. Hal ini penting karena BPD dapat muncul bersamaan dengan kondisi lain, seperti depresi, gangguan kecemasan, PTSD, gangguan penggunaan zat, atau gangguan makan. Evaluasi profesional membantu menentukan kebutuhan penanganan yang sesuai.

Kabar baiknya, BPD dapat ditangani dan banyak orang dapat mengalami perbaikan gejala dengan dukungan serta terapi yang tepat. NIMH menjelaskan bahwa psikoterapi merupakan penanganan utama untuk BPD. Salah satu pendekatan yang banyak digunakan adalah Dialectical Behavior Therapy (DBT), yang mengajarkan keterampilan untuk mengelola emosi yang intens, mengurangi perilaku merusak diri, meningkatkan kesadaran terhadap kondisi saat ini, dan membangun hubungan yang lebih sehat. Terapi lain, seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT), juga dapat digunakan untuk membantu mengubah pola pikir dan perilaku yang tidak membantu.

Memahami BPD berarti melihat seseorang sebagai manusia secara utuh, bukan hanya melalui diagnosisnya. Dukungan dari keluarga, teman, dan tenaga profesional dapat membantu seseorang menjalani proses pemulihan dengan lebih baik. NHS menjelaskan bahwa psikoterapi untuk BPD bertujuan membantu seseorang memahami cara berpikir dan perasaannya serta meningkatkan kendali terhadap pikiran dan emosi; terapi dapat berlangsung cukup lama sesuai kebutuhan. Jika seseorang mengalami krisis atau memiliki dorongan untuk menyakiti diri, bantuan darurat dan tenaga kesehatan perlu segera dihubungi. Dengan penanganan yang tepat dan dukungan yang konsisten, pengelolaan gejala dan kualitas hidup dapat membaik. (Nur Fhadila)

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....