Hasrat Inner Child, Pengalaman Emosional di Masa Kanak-kanak
- 10 Sep 2026 08:48 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, MAKASSAR - Memenuhi keinginan masa kecil ketika telah dewasa menjadi pengalaman yang cukup umum. Melansir health.clevelandclinic seseorang mungkin membeli mainan yang dahulu hanya bisa dilihat di etalase, mengoleksi barang impian, atau menikmati sesuatu yang pernah sulit dijangkau karena keterbatasan ekonomi maupun keadaan keluarga.
Keinginan tersebut sering dikaitkan dengan istilah inner child, yaitu bagian pengalaman emosional yang terbentuk sejak masa kanak-kanak dan masih dapat memengaruhi cara seseorang memandang dirinya ketika dewasa. Pengalaman masa kecil, terutama yang berkaitan dengan kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi, dapat meninggalkan pola pengaturan emosi hingga tahap kehidupan berikutnya.
Membeli barang yang dahulu tidak mampu dimiliki terkadang dapat dipahami sebagai dorongan untuk memberikan sesuatu kepada diri sendiri yang tidak diperoleh pada masa lalu. Dorongan yang disebut sebagai reparenting, dalam dunia medis melansir dictionary.apa adalah sebuah terapi kepada seseorang untuk memenuhi sesuatu yang diinginkan yang tidak didapatkan dari orang tuanya.
Semua keinginan masa kecil merupakan hasil pengaruh dari budaya yang berkembang pada masa itu yang dijalani dan digemari tumbuh bersama bertahun - tahun. Kondisi ekonomi dan prioritas dalam keluarga kemudian menjadi batasan dan menjadi obsesi terpendam impian tersebut bisa terwujud pada masanya.
Bagi sebagian orang, memiliki barang impian dapat menjadi bentuk validasi terhadap ketidaksanggupan pada masa lalu. Saat kemampuan ekonomi telah berubah, pembelian tersebut seolah menjadi pernyataan pribadi bahwa sesuatu yang dahulu mustahil kini akhirnya dapat diraih.
Rasa bahagia tidak selalu bertahan lama setelah barang yang dinantikan benar-benar dimiliki. Antisipasi dan keinginan terhadap suatu barang dapat menghasilkan peningkatan kesenangan yang kemudian menurun setelah proses pembelian selesai.
Fase menunggu, membayangkan, dan merencanakan pembelian terkadang justru terasa lebih menyenangkan daripada kepemilikan barang itu sendiri. Melansir apa.org ketika fase antisipasi berakhir, barang yang selama bertahun-tahun diidamkan dapat berubah menjadi bagian biasa dari kehidupan dan meninggalkan rasa hampa karena harapan emosional yang dibebankan kepadanya tidak sepenuhnya terpenuhi.
Memenuhi hasrat inner child tidak harus selalu berarti membeli semakin banyak barang. Seseorang dapat mengenali kebutuhan emosional di balik keinginannya, menikmati pengalaman baru, memberikan ruang bagi diri sendiri untuk menerima kenyataan bahwa tidak semua kekosongan masa lalu dapat diselesaikan melalui sesuatu yang akhirnya bisa dimiliki.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....