Fakultas Kedokteran UMI Makassar Gencarkan Gerakan Cegah DBD Dimulai Dari Rumah
- 21 Jun 2026 16:19 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID,Makassar — Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi ancaman kesehatan yang serius bagi masyarakat, khususnya di wilayah perkotaan seperti Kota Makassar. Menanggapi fenomena tersebut, program siaran Pengabdian Masyarakat RRI Makassar yang bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar menggelar dialog pada edisi Sabtu (20/06/2026). Mengusung tema "Gerakan Cegah DBD Dimulai Dari Rumah", edukasi ini bertujuan untuk membangkitkan kesadaran kolektif masyarakat dari unit terkecil, yaitu keluarga.
Dipandu Risna Supratio, dialog ini menghadirkan narasumber, Vivi Chairun Nisa, S.Ked. Ia merupakan Mahasiswa Program Profesi Dokter (MPPD) dari Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat (IKM), Ilmu Kesehatan Keluarga (IKK), dan Ilmu Kesehatan Perumahan (IKP) FK UMI Makassar. Kehadirannya ini memberikan perspektif praktis mengenai bagaimana pencegahan penyakit berbasis lingkungan dapat diterapkan secara efektif tanpa harus mengeluarkan biaya besar.
Dalam paparannya, Vivi menekankan bahwa kunci utama memutus mata rantai penularan virus dengue bukanlah fogging atau pengasapan, melainkan konsistensi dalam menjaga kebersihan lingkungan rumah. “Fogging kurang efektif karena hanya membunuh nyamuk dewasa, sementara jentik-jentik nyamuk Aedes aegypti tetap hidup di genangan air. Oleh karena itu, gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) secara mandiri menjadi benteng pertahanan pertama bagi setiap keluarga”,jelasnya.
Vivi Chairun Nisa menjelaskan secara detail langkah-langkah konkret yang harus diadopsi masyarakat melalui metode 3M Plus yang diperbarui. “Menguras tempat penampungan air secara rutin, menutup rapat tempayan atau tong air, serta mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menampung air hujan wajib menjadi kebiasaan mingguan. Sementara unsur "Plus" merujuk pada perlindungan tambahan seperti memelihara ikan pemakan jentik, menanam tumbuhan pengusir nyamuk, hingga menghindari kebiasaan menggantung pakaian bekas pakai di kamar” lanjutnya.
"Langkah paling krusial sebenarnya dimulai dari hal-hal kecil di dalam rumah kita sendiri. Nyamuk Aedes aegypti sangat menyukai air yang bersih dan tenang, yang seringkali tanpa kita sadari ada di tatakan vas bunga, tempat minum hewan peliharaan, atau dispenser. Jadi, Gerakan Cegah DBD ini tidak akan berhasil tanpa adanya kepedulian dari kepala keluarga dan seluruh anggota rumah untuk menyisihkan waktu minimal sepuluh menit seminggu sekali guna memantau jentik," ujar Vivi Chairun Nisa.
Lebih lanjut, program kolaboratif antara RRI Makassar dan FK UMI ini juga menyoroti pentingnya peran juru pemantau jentik (jumantik) mandiri di setiap rumah tangga. Dengan adanya satu orang anggota keluarga yang bertindak sebagai pengawas kebersihan lingkungan rumah, potensi pembentukan sarang nyamuk baru dapat ditekan secara signifikan. Sinergi ini diharapkan mampu menurunkan angka morbiditas akibat DBD di Sulawesi Selatan secara bertahap.
"Penyakit DBD ini sangat bisa kita cegah jika kita tidak memberi ruang bagi nyamuk untuk berkembang biak. Mari jadikan rumah kita sebagai tempat yang aman dan sehat bagi anak-anak serta keluarga. Ingat, satu tindakan kecil dari dalam rumah kita hari ini adalah penentu keselamatan lingkungan kita esok hari," tutupnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....