Manis Gula Aren Aman untuk Kesehatan? Ini Penjelasannya

  • 13 Mei 2026 08:40 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar Minuman berbahan gula aren semakin populer di Indonesia, terutama pada kopi susu dan berbagai minuman kekinian. Cita rasanya yang khas serta kesan alami membuat gula aren kerap dianggap lebih sehat dibanding gula putih. Dilansir ayosehat.kemkes.go.id, Gula aren berasal dari nira pohon aren yang direbus hingga mengental lalu mengkristal. Proses pengolahannya lebih tradisional dan minim pemurnian dibanding gula pasir, sehingga masih mengandung sejumlah mineral seperti kalium, magnesium, dan zat besi.

Namun, kandungan nutrisi tersebut tergolong sangat kecil dan tidak cukup menjadikan gula aren sebagai bahan pemanis yang bebas risiko. Secara kandungan, gula aren tetap merupakan gula dengan komponen utama sukrosa. Artinya, konsumsi gula aren tetap dapat meningkatkan kadar gula darah dan berkontribusi pada asupan kalori harian.

Meski memiliki indeks glikemik yang sedikit lebih rendah dibanding gula putih, perbedaan tersebut dinilai tidak signifikan apabila dikonsumsi dalam jumlah berlebihan. Kondisi ini perlu menjadi perhatian khusus bagi penderita diabetes atau individu dengan resistensi insulin. Risiko utama konsumsi minuman gula aren bukan terletak pada jenis pemanisnya, melainkan jumlah konsumsinya. Minuman manis umumnya tinggi kalori namun rendah rasa kenyang, sehingga berpotensi menyebabkan konsumsi kalori berlebih tanpa disadari.

Jika dikonsumsi secara rutin dan berlebihan, kebiasaan tersebut dapat meningkatkan risiko kenaikan berat badan, obesitas, penyakit jantung, hingga diabetes tipe 2. Selain itu, tidak semua produk berlabel gula aren menggunakan bahan murni. Banyak minuman komersial menambahkan gula tambahan, sirup, krimer, serta susu tinggi lemak untuk memperkuat rasa.

Kombinasi tersebut membuat minuman seperti kopi susu gula aren berpotensi memiliki kandungan kalori yang tinggi. Konsumsi minuman gula aren pada dasarnya tetap diperbolehkan selama dalam batas wajar. Untuk orang sehat, minuman ini aman dikonsumsi sesekali dengan porsi terkendali. Organisasi kesehatan dunia merekomendasikan asupan gula tambahan tidak melebihi 10 persen dari total kebutuhan kalori harian, atau idealnya di bawah 5 persen. Sementara itu, satu gelas minuman kekinian kerap mendekati bahkan melampaui batas tersebut.

Masyarakat disarankan memilih ukuran porsi kecil, mengurangi kadar gula saat memesan, membatasi frekuensi konsumsi, serta menghindari tambahan krimer atau sirup berlebih.Alternatif lain adalah membuat minuman sendiri di rumah agar jumlah gula dan bahan tambahan dapat dikontrol lebih baik.

Selain itu, konsumen juga perlu membiasakan diri membaca label gizi pada produk kemasan untuk mengetahui kandungan gula dan kalori per sajian. Minuman gula aren tidak otomatis berbahaya, namun juga bukan pilihan sehat apabila dikonsumsi tanpa kontrol. Pola konsumsi yang seimbang tetap menjadi faktor utama dalam menjaga kesehatan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....