Hedonic Treadmill, Kebahagiaan Semu Manusia setelah Menggapai Tujuannya

  • 11 Mei 2026 21:03 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar- Banyak orang percaya bahwa kebahagiaan akan datang dan menetap setelah mereka berhasil mencapai tujuan besar dalam hidup. Lulus dari kampus impian, memperoleh pekerjaan bergengsi, membeli rumah, atau mencapai target finansial sering dianggap sebagai puncak kepuasan.

Pada kenyataannya, rasa senang yang muncul setelah keberhasilan tersebut biasanya hanya bertahan sementara sebelum perlahan memudar. Fenomena ini dalam psikologi dikenal sebagai hedonic treadmill atau adaptasi hedonis.

Istilah ini menurut hasil penelitian repository.ub.ac.id karya Ahmad Tohari dimana menggambarkan kecenderungan manusia untuk kembali ke tingkat kebahagiaan yang relatif stabil setelah mengalami peristiwa positif maupun negatif. Ibarat berlari di atas treadmill, seseorang terus bergerak dan berusaha keras, tetapi pada akhirnya tetap berada di titik emosional yang hampir sama.

Saat seseorang mencapai tujuan yang sudah lama diidamkan, otak melepaskan dopamin yang menimbulkan rasa puas dan euforia. Namun, otak manusia sangat cepat menyesuaikan diri terhadap kondisi baru.

Mobil baru yang dulu terasa istimewa akan menjadi hal biasa. Jabatan tinggi yang awalnya membanggakan lambat laun dianggap sebagai standar hidup baru. Akibatnya, seseorang mulai mencari target berikutnya untuk mendapatkan sensasi bahagia yang sama.

Menjadi alasan mengapa banyak orang merasa kosong setelah meraih kesuksesan. Mereka telah menghabiskan waktu bertahun-tahun mengejar tujuan tertentu, tetapi setelah berhasil, kenyataannya hidup terasa tidak jauh berbeda.

Kebahagiaan yang bergantung sepenuhnya pada pencapaian eksternal cenderung rapuh karena mudah memudar ketika rasa kagum dan antusiasme sudah hilang. Ada beberapa pencapaian yang kebahagiaannya tidak bersifat sementara, diantaranya pengalaman hidup yang memiliki makna mendalam, seperti hubungan yang hangat, rasa syukur, kontribusi kepada orang lain, dan perasaan hidup yang bermakna, cenderung memberikan kepuasan yang lebih tahan lama.

Manusia memang beradaptasi terhadap banyak perubahan, tetapi kualitas hubungan sosial dan tujuan hidup tetap memiliki pengaruh besar terhadap kesejahteraan jangka panjang. Tujuan hidup tetap penting, tetapi tidak sebagai sumber kebahagiaan satu-satunya.

Kebahagiaan yang lebih stabil muncul ketika seseorang mampu menikmati proses, menghargai apa yang sudah dimiliki, dan menemukan makna di balik setiap pencapaian. Saat sudut pandang berubah dari “aku akan bahagia jika berhasil” menjadi “aku bisa bahagia sambil terus bertumbuh,” treadmill itu tidak lagi terasa melelahkan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....