Khasiat Kasumba Terate dan Air Kelapa dalam Pengobatan Sarampa

  • 19 Apr 2026 17:02 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Wajo - Masyarakat Bugis dikenal memiliki keterikatan yang kuat dengan alam dalam menjaga kesehatan dan menyembuhkan penyakit. Salah satu kearifan lokal yang masih bertahan hingga saat ini adalah penggunaan ramuan tradisional untuk mengatasi Sarampa (campak atau cacar air). Di tengah gempuran pengobatan modern, praktik pengobatan berbasis bahan alami tetap menjadi pilihan utama bagi banyak keluarga di Sulawesi Selatan karena dianggap lebih aman dan selaras dengan keseimbangan tubuh manusia.

Salah satu praktisi yang setia menjaga tradisi ini adalah Wa'dawiyah, seorang Sanro (dukun/ahli pengobatan tradisional) yang telah berpengalaman selama bertahun-tahun. Menurut Wa'dawiyah, kunci kesembuhan dari Sarampa bukan hanya terletak pada doa-doa yang dipanjatkan, tetapi juga pada ketepatan meramu bahan-bahan pilihan yang disediakan oleh alam. Ia telah membuktikan keampuhan ramuan khusus yang melibatkan air kelapa muda dan daun kasumba terate dalam menangani ratusan pasiennya.

Ramuan andalan Wa'dawiyah ini menggunakan Air Kelapa Muda sebagai bahan dasar utama karena sifatnya yang mendinginkan. Dalam pandangan budaya Bugis, Sarampa dianggap sebagai penyakit panas yang muncul dari dalam darah, sehingga membutuhkan penawar yang bersifat sejuk. Air kelapa muda secara medis memang kaya akan elektrolit dan antioksidan yang mampu mencegah dehidrasi serta membantu menurunkan suhu tubuh pasien yang biasanya mengalami demam tinggi saat terserang Sarampa.

Daun Kasumba Tarate ( Kasumba Ugi) Yang dicampurkan dalam Larutan Air Kelapa

Komponen yang tidak kalah penting dalam ramuan ini adalah Daun Kasumba Terate (Carthamus tinctorius). Wa'dawiyah menjelaskan bahwa daun ini memiliki khasiat khusus untuk memancing bintik-bintik merah agar keluar secara merata dan tidak tertahan di dalam tubuh. Menurut kepercayaan lokal, jika Sarampa masuk ke dalam atau tidak keluar ke permukaan kulit, hal itu bisa membahayakan organ dalam pasien. Daun Kasumba Terate inilah yang berfungsi sebagai pendorong alami untuk membersihkan racun tersebut.

Proses pembuatannya dilakukan dengan penuh ketelitian, di mana daun kasumba terate biasanya direndam atau dicampurkan langsung ke dalam air kelapa muda yang segar. Wa'dawiyah menekankan bahwa bahan yang digunakan haruslah berkualitas; kelapa yang dipilih tidak boleh terlalu tua agar kandungan airnya tetap optimal. Setelah ramuan siap, pasien biasanya diminta meminumnya secara rutin sembari mengoleskan sisa rendaman daun ke bagian kulit yang meradang untuk memberikan efek tenang dan mengurangi rasa gatal.

Selama bertahun-tahun menjalankan praktiknya, Wa'dawiyah telah menyaksikan banyak keberhasilan di mana pasien yang awalnya lemas dan demam berangsur pulih setelah mengonsumsi ramuan ini. Bagi masyarakat setempat, sosok Wa'dawiyah bukan sekadar pengobat, melainkan penjaga nyala api pengetahuan leluhur. Kesuksesan ramuan air kelapa dan kasumba terate ini membuktikan bahwa observasi mendalam para pendahulu terhadap tanaman obat memiliki dasar manfaat yang nyata dan tetap relevan di era modern.

Keberadaan pengobatan tradisional seperti yang dipraktikkan oleh Wa'dawiyah merupakan bagian dari identitas budaya yang harus dilestarikan. Di balik kesederhanaan bahan-bahannya, terdapat filosofi mendalam tentang harmoni antara manusia dan alam semesta. Melalui perantara air kelapa muda dan daun kasumba terate, kearifan lokal Bugis-Makassar terus memberikan kontribusi nyata bagi kesehatan masyarakat, sekaligus mengingatkan kita untuk tidak melupakan akar tradisi di tengah kemajuan zaman.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....