IDAU Sulsel Bergerak Atasi KLB Campak di Sulsel
- 14 Apr 2026 10:27 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID,Makassar – Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Sulawesi Selatan memberikan perhatian serius terhadap penetapan status Kejadian Luar Biasa (KLB) Campak di sejumlah wilayah Sulsel oleh Kementerian Kesehatan. Dalam sesi kedua Dialog Interaktif PRO1 RRI Makassar, Selasa, 14 April 2026.
Ketua Bidang Ilmiah IDAI Sulsel, dr. Ninny Meutia Pelupessy, Sp.A, menyatakan bahwa fenomena ini merupakan sinyal merah bagi kesehatan anak di daerah seperti Makassar, Jeneponto, Wajo, hingga Luwu Timur. Menurutnya, penetapan status KLB ini menunjukkan adanya lonjakan kasus yang signifikan dan memerlukan penanganan medis serta preventif yang luar biasa cepat guna memutus rantai penularan.
Menanggapi kembalinya penyakit yang sempat dinyatakan hilang ini, dr. Ninny menjelaskan bahwa munculnya kembali campak dipicu oleh terbentuknya "kantong-kantong" populasi rentan. "Campak adalah penyakit yang sangat menular; satu kasus dapat menginfeksi belasan orang di sekitarnya jika tidak ada kekebalan kelompok," ujarnya kepada pembawa acara Arfan Yusri. Ia menekankan bahwa akumulasi anak-anak yang tidak mendapatkan imunisasi lengkap selama beberapa tahun terakhir menjadi bahan bakar utama yang membuat virus ini kembali bersirkulasi di masyarakat.
Terkait cakupan vaksinasi, dr. Ninny mengakui bahwa meskipun program imunisasi dasar telah tersedia secara luas, tantangan di lapangan masih besar. Masih ditemukan adanya immunity gap atau kesenjangan kekebalan di beberapa wilayah akibat berbagai faktor. Selain kendala akses logistik, ia tidak menampik bahwa masih ada sebagian orang tua yang skeptis atau merasa ragu terhadap keamanan vaksin, yang sering kali dipengaruhi oleh informasi kurang akurat atau hoaks yang beredar di media sosial mengenai efek samping imunisasi.
Lebih lanjut, dr. Ninny menyoroti pentingnya melengkapi status imunisasi anak guna mencapai kekebalan maksimal. “Belajar dari pola penanganan pandemi COVID-19, konsep pemberian dosis tambahan atau penguatan (booster) dalam imunisasi rutin, seperti vaksin MR (Measles-Rubella), sangat krusial. Dosis pertama pada usia 9 bulan, kedua pada 18 bulan, dan dosis ketiga saat anak masuk sekolah dasar (BIAS) bukan sekadar formalitas, melainkan langkah vital untuk memastikan antibodi anak tetap berada di level protektif dalam jangka panjang.Hal ini juga kami dorong untuk para Nakes karena mereka juga sangat rentan tentunya”.
Dalam upaya menekan angka kasus, dr. Ninny menegaskan bahwa IDAI Sulsel terus memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah dan Dinas Kesehatan di kabupaten/kota. Peran IDAI tidak hanya terbatas pada penanganan klinis pasien di rumah sakit, tetapi juga terlibat aktif dalam surveilans ketat serta memberikan rekomendasi berbasis data ilmiah kepada pembuat kebijakan. Sinergi ini mencakup pelatihan tenaga medis di Puskesmas untuk deteksi dini hingga advokasi langsung ke masyarakat guna meningkatkan kembali kepercayaan publik terhadap program imunisasi nasional.
Melalui forum tersebut, IDAI Sulsel juga mengimbau para orang tua untuk segera membawa anak ke fasilitas kesehatan terdekat jika belum melengkapi status imunisasinya.”Campak bukan sekadar ruam biasa, karena komplikasi seperti pneumonia (infeksi paru) dan ensefalitis (infeksi otak) dapat mengancam nyawa. Jangan menunggu ada kasus di sekitar kita baru bertindak. Pencegahan melalui vaksinasi jauh lebih efektif dan murah dibandingkan mengobati komplikasi yang ditimbulkan," tegas dr. Ninny.
Sebagai penutup dialog, dr. Ninny berharap momentum penanganan KLB ini menjadi titik balik bagi semua pihak untuk kembali memprioritaskan kesehatan anak sebagai investasi masa depan. “Dengan koordinasi yang solid antara IDAI, pemerintah, dan kesadaran masyarakat yang tinggi, Sulawesi Selatan diharapkan dapat segera keluar dari status KLB dan kembali mencapai target eliminasi campak demi melindungi generasi penerus bangsa dari ancaman penyakit yang sebenarnya dapat dicegah tersebut,”tutupnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....