Ini Bahaya Penggunaan Gadget Tidak Terkontrol pada Anak
- 12 Apr 2026 14:26 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID,Makassar - Era digital membawa tantangan besar bagi pola asuh anak, di mana perangkat elektronik kini menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian. Dalam siaran program Pengabdian Masyarakat di PRO1 RRI Makassar yang dipandu oleh Arfan Yusri, dr. Abdi Dwiyanto P. S, Sp.A, membedah secara mendalam mengenai dampak penggunaan gadget yang tidak terkontrol pada tumbuh kembang buah hati. Dialog ini menyoroti bagaimana ketergantungan pada layar dapat menghambat interaksi sosial yang seharusnya menjadi pondasi utama perkembangan emosional anak di usia dini.
Paparan layar yang berlebihan bukan sekadar masalah durasi, melainkan risiko jangka panjang terhadap kesehatan fisik dan mental. dr. Abdi menjelaskan bahwa paparan blue light dari perangkat digital dapat mengganggu produksi hormon melatonin, yang berakibat pada buruknya kualitas tidur anak. Selain itu, gaya hidup sedenter atau kurang gerak saat bermain gadget menjadi pemicu utama meningkatnya angka obesitas pada anak-anak di perkotaan, termasuk di wilayah Makassar.
| Baca juga: Kue Buah, Kaya Nutrisi dan Antioksidan Alami |
Masalah kognitif dan kemampuan bicara juga menjadi poin krusial yang dibahas dalam edisi kali ini. dr. Abdi Dwiyanto menekankan bahwa interaksi satu arah dengan layar ponsel seringkali menyebabkan speech delay atau keterlambatan bicara. “Anak cenderung menjadi penerima informasi pasif tanpa adanya stimulasi komunikasi dua arah yang diperlukan untuk mengasah kemampuan bahasa dan pemahaman kosakata secara aktif,” jelasnya.
dr. Abdi Dwiyanto P. S, Sp.A juga memberikan peringatan keras kepada para orang tua agar lebih waspada terhadap gejala kecanduan digital. "Gadget bukanlah 'pengasuh' elektronik yang bisa kita andalkan. Ketika anak lebih memilih layar daripada berinteraksi dengan orang sekitarnya, itu adalah sinyal bahaya. Penggunaan yang tidak terukur dapat merusak sirkuit dopamin di otak anak, yang mengakibatkan mereka sulit berkonsentrasi, mudah cemas, hingga kehilangan minat pada aktivitas fisik yang sehat," tegas dokter spesialis anak dari FK UMI Makassar tersebut.
“Dampak psikologis lainnya yang sering terabaikan adalah perilaku agresif dan sulitnya regulasi emosi. Anak-anak yang terlalu sering terpapar konten instan tanpa pengawasan cenderung memiliki ambang kesabaran yang rendah. Mereka sering kali menunjukkan tantrum yang meledak-ledak ketika perangkat mereka diambil, karena otak mereka telah terbiasa dengan stimulasi cepat yang didapatkan dari gim atau video pendek di media sosial,” tambahnya.
Sebagai solusi, dr. Abdi menyarankan penerapan screen time yang ketat sesuai dengan rekomendasi usia medis. Orang tua diharapkan hadir secara utuh saat bersama anak tanpa terdistraksi oleh ponsel pribadi. Edukasi ini menjadi bagian dari komitmen Fakultas Kedokteran UMI Makassar dalam mencetak generasi masa depan yang sehat secara fisik dan tangguh secara mental melalui program sosialisasi rutin di kanal udara RRI Makassar.
Menutup dialog , dr.Abdi mengajak seluruh masyarakat dan orang tua pada khususnya untuk memberi perhatian lebih dan pendampingan pada anak saat bermain gadget.”Bangun komunikasi dua arah orang tua dan anak saat bersama,misalnya kembali menghidupkan permainan tradisional dan interaksi hangat di dalam rumah. Keseimbangan antara teknologi dan aktivitas dunia nyata seperti ini adalah kunci agar anak-anak tidak menjadi tawanan digital di masa depan. Dengan pengawasan yang bijak, teknologi seharusnya menjadi alat pendukung, bukan penghambat potensi besar yang dimiliki setiap anak Indonesia,” tutup dr.Abdi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....