Dinkes Sulsel Ingatkan Pasien TBC Tuntaskan Pengobatan Selama Enam Bulan
- 10 Apr 2026 14:27 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar – Penyakit TBC (Tuberkulosis) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini paling sering menyerang paru-paru, dan juga dapat menginfeksi organ tubuh lain seperti tulang belakang, ginjal, hingga otak.
Andi Julia Yunus, Pengelola Program TBC Dinkes Sulsel dalam Program Indonesia Sehat Pro 1 pada Jumat, 10 April 2026, mengungkapkan Sulawesi Selatan masuk ke dalam 8 besar provinsi dengan beban Tuberkulosis tertinggi. Berdasarkan data, kasus TBC yang sudah ditemukan pada tahun 2025 sebanyak 29.559 kasus dengan target capaian Sulsel mencapai 45.472 kasus. Terdapat selisih 11.365 kasus yang belum ditemukan yang masih berpotensi menularkan tuberkulosis di Sulawesi Selatan.
Pengobatan TBC dilakukan minimal 6 bulan pengobatan dan diharuskan tuntas. “Jadi makanya kalau 6 bulan tidak tuntas, itu masih ada sisa-sisa kuman kita yang suatu saat akan bangun dan menginfeksi kembali pepada tubuh kita. Seperti itu makanya 6 bulan itu memang harus tuntas,” jelas Uli sapaan akrabnya.
Terdapat beberapa faktor yang menjadi pemicu pengobatan TBC tidak tuntas. Diantaranya, terjadi efek samping pengobatan, penyintas merasa jenuh, dan stigma negatif pada penyintas TBC.
Uli menjelaskan apabila terjadi efek samping pengobatan, maka terjadilah yang namanya Lost to follow up. “Angka keberhasilan pengobatan kita itu kan hanya sekitar 84% ,Artinya masih ada sekitar 16%. Dari 16% yang terbanyak itu adalah Lost to follow up, Dropout. Penyebab dropout ini yang terbanyak adalah efek samping itu karena memang memberikan efek-efek yang kurang bagus kepada tubuh seseorang. Sehingga dia memutuskan untuk berhenti pengobatan”, jelas Uli.
Efek samping yang dirasakan berupa mual, muntah pusing, lemah, dan lesu. Kondisi efek samping berkepanjangan membuat pasien memilih untuk menghentikan pengobatan. Padahal, ketika mengalami hal ini, pasien diharapkan untuk mengunjungi pelayanan kesehatan dan memberitahu kepada dokter sehingga diberikan obat-obat yang meringankan gejala.
Lebih lanjut dikatakan bahwa stigma pada TBC sangat mempengaruhi pasien. Terdapat beberapa pasien yang mengucilkan diri dan tidak lagi melanjutkan pengobatan. Diakui, TBC menjadi salah satu penyakit stigma yang kuat di masyarakat. Olehnya itu, pentinya petugas kesehatan memberikan edukasi kepada penyintas dan masyarakat terkait TBC.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....