Rumah Penuh Barang? Bisa Jadi Gangguan Menimbun atau Hoarding Disorder

  • 02 Apr 2026 07:52 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID,Makassar – Ada rumah yang pintunya masih bisa dibuka, tetapi ruang tamunya tak lagi benar-benar “hidup”. Kursi tertutup kardus, meja makan dipenuhi barang, hingga dapur menyisakan lorong sempit untuk berjalan.Sekilas, kondisi ini kerap dinilai sebagai tanda kemalasan atau kurang disiplin.

Namun dalam banyak kasus, kondisi tersebut dapat berkaitan dengan hoarding disorder, gangguan kesehatan jiwa yang membuat seseorang sangat sulit berpisah dengan barang. Gangguan ini bukan sekadar kebiasaan menumpuk. Penderitanya merasakan dorongan kuat untuk menyimpan barang, disertai tekanan emosional saat harus membuangnya.

Akibatnya, ruang hidup perlahan kehilangan fungsi, bahkan berisiko terhadap keselamatan. Dalam dunia medis, hoarding disorder telah diakui sebagai diagnosis tersendiri sejak penerbitan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5) pada 2013.

Perubahan ini menegaskan bahwa perilaku menimbun bukan hanya soal kebiasaan, tetapi melibatkan mekanisme psikologis yang kompleks. Secara umum, kondisi ini ditandai dengan kesulitan menetap untuk membuang barang, penumpukan yang mengganggu fungsi ruang, serta dampak nyata pada kehidupan sehari-hari, termasuk relasi sosial dan kesehatan.

Tidak hanya itu, penderita juga kerap memiliki kecenderungan untuk terus memperoleh barang baru, serta memiliki tingkat kesadaran yang berbeda terhadap kondisi yang dialaminya. Dikutip dari ayosehat.kemkes.go.id, Para ahli menjelaskan, bagi sebagian penderita, barang bukan sekadar benda, melainkan memiliki nilai emosional yang kuat.

Barang dapat menjadi simbol kenangan, rasa aman, atau bahkan bagian dari identitas diri. Dari sisi kognitif, penderita hoarding disorder juga mengalami kesulitan dalam mengambil keputusan sederhana, seperti memilah dan menentukan barang mana yang harus disimpan atau dibuang.

Proses ini dapat memicu kecemasan berlebih. Selain faktor psikologis, penelitian menunjukkan adanya peran faktor biologis dan genetik, meski belum menjadi penentu tunggal.

Kondisi ini juga sering muncul bersamaan dengan gangguan lain seperti depresi, kecemasan, atau ADHD. Dampak hoarding tidak hanya dirasakan individu, tetapi juga lingkungan sekitar.

Penumpukan barang dapat meningkatkan risiko kebakaran, jatuh, hingga masalah kesehatan akibat sanitasi yang buruk. Penanganan hoarding disorder tidak dapat dilakukan secara instan.

Pendekatan yang dianjurkan adalah terapi perilaku kognitif (CBT) yang berfokus pada pembentukan keterampilan dalam mengelola barang dan mengurangi kecemasan saat membuang. Ahli juga mengingatkan, pembersihan paksa tanpa persetujuan penderita justru dapat memperburuk kondisi.

Pendekatan yang lebih efektif adalah kolaboratif, dengan mengutamakan keamanan dan fungsi ruang secara bertahap. Dukungan keluarga menjadi faktor penting dalam proses pemulihan.

Penggunaan bahasa yang empatik dan tidak menghakimi dinilai dapat membantu penderita lebih terbuka untuk menerima bantuan.Hoarding disorder bukan sekadar persoalan “rumah berantakan”, tetapi kondisi yang memerlukan pemahaman dan penanganan yang tepat. Perubahan biasanya terjadi secara bertahap, dimulai dari langkah kecil untuk mengembalikan fungsi ruang dan kualitas hidup.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....