Memahami Rheumatoid Arthritis: Lebih dari Sekadar Nyeri Sendi
- 07 Mar 2026 17:04 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Rheumatoid Arthritis (RA) adalah penyakit autoimun kronis di mana sistem kekebalan tubuh secara keliru menyerang jaringan sehat, terutama pada lapisan pelindung sendi yang disebut sinovium. Berbeda dengan osteoarthritis yang disebabkan oleh keausan fisik, RA dipicu oleh peradangan sistemik. Jika tidak ditangani, peradangan ini dapat menyebabkan kerusakan jaringan ikat yang parah, mengakibatkan nyeri kronis, kehilangan keseimbangan, hingga deformitas atau perubahan bentuk fisik pada sendi.
Gejala utama RA biasanya muncul secara simetris, artinya jika satu pergelangan tangan terdampak, pergelangan tangan lainnya kemungkinan besar juga akan mengalami hal serupa. Pasien umumnya mengeluhkan kekakuan sendi di pagi hari yang berlangsung lebih dari satu jam, serta sendi yang terasa hangat, bengkak, dan nyeri saat ditekan. Karena bersifat sistemik, penyakit ini juga dapat menimbulkan gejala menyeluruh seperti kelelahan ekstrem, demam ringan, dan penurunan nafsu makan.
Meskipun penyebab pastinya belum diketahui secara sepenuhnya, para ahli meyakini adanya kombinasi antara faktor genetik dan lingkungan. Individu dengan penanda genetik tertentu (seperti HLA-DRB1) memiliki risiko lebih tinggi, yang kemudian dapat dipicu oleh faktor eksternal seperti kebiasaan merokok atau infeksi bakteri dan virus tertentu. Perempuan juga diketahui memiliki kemungkinan tiga kali lebih besar terkena RA dibandingkan laki-laki, biasanya muncul pada rentang usia 30 hingga 60 tahun.
Dikutip dari Mayo clinic, Diagnosis RA dilakukan melalui kombinasi pemeriksaan fisik, riwayat medis, dan tes penunjang seperti tes darah untuk mendeteksi Rheumatoid Factor (RF) atau antibodi anti-CCP. Selain itu, pemindaian seperti sinar-X atau MRI digunakan untuk memantau tingkat kerusakan sendi. Deteksi dini sangatlah krusial; para dokter kini menekankan pentingnya "jendela peluang" (window of opportunity) dalam beberapa bulan pertama setelah gejala muncul untuk memulai pengobatan agresif demi mencegah kerusakan permanen.
Pengobatan modern bertujuan untuk mencapai remisi atau tingkat aktivitas penyakit serendah mungkin. Penggunaan obat-obatan kelompok DMARDs (Disease-Modifying Antirheumatic Drugs) dan terapi biologis menjadi standar utama untuk menghambat perkembangan penyakit. Selain medis, perubahan gaya hidup seperti olahraga rendah benturan (berenang atau bersepeda) dan diet anti-inflamasi sangat disarankan untuk menjaga mobilitas sendi dan meningkatkan kualitas hidup pengidapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....