Fakta Jus Jambu dalam Pengobatan DBD
- 01 Mar 2026 18:29 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Penanganan penyakit Demam Berdarah Dengue DBD sering kali diwarnai dengan berbagai pendapat di tengah masyarakat, salah satunya adalah ketergantungan pada konsumsi jus jambu biji untuk menaikkan trombosit. Dalam sebuah diskusi di Pro 1 RRI Makassar, Minggu, 1 Maret 2026, Dokter Rachmat Latief mengatakan bahwa secara medis, belum ada penelitian yang membuktikan secara pasti bahwa makanan atau minuman tertentu dapat menyembuhkan DBD secara langsung.
Meskipun kandungan mineral dalam jus jambu baik bagi tubuh, hal tersebut tidak bisa menggantikan prosedur medis utama di rumah sakit.
“Secara penelitian belum bisa dibuktikan secara pasti bahwa jus jambu biji bisa menyembuhkan DBD Tetapi kami juga tidak melarang karena kandungan gizi mineralnya juga cukup bagus, sehingga kita biarkan saja mereka kalau mau beli silakan,” kata dr Rachmat kepada RRI.
Dikatakan dr Rachmat langkah paling krusial bagi pasien yang telah didiagnosis DBD adalah pemberian cairan melalui infus. Hal ini disebabkan oleh terjadinya kebocoran pembuluh darah pada pasien DBD yang menyebabkan cairan tubuh keluar dari sirkulasi. Jika cairan yang hilang tidak segera diganti melalui jalur intravena, kondisi pasien dapat memburuk dengan cepat karena volume darah yang tidak mencukupi untuk mendukung fungsi organ.
“Jika pasti demam berdarah, obat yang pasti dan harus dilakukan: pasang infus Karena cairan bocor keluar, harus kami mengganti cairan itu sehingga kalau ada minuman yang dia minum, ya paling kita asumsikan bahwa itu bisa menambah cairan yang ada, tapi bukan itu yang menentukan, Nah, kita sudah punya protokol nama cairannya apa, tetesannya berapa, berapa jam harus diberikan, itu semua sudah diatur semuanya,” kata dr Rachmat kepada RRI.
Dokter Rachmat Latief mengatakan, Penggunaan infus di rumah sakit dilakukan dengan protokol yang sangat ketat dan terukur. Tenaga medis telah mengatur jenis cairan, jumlah tetesan per menit, hingga durasi pemberian yang disesuaikan dengan tingkat keparahan pasien, mulai dari tingkat satu hingga tingkat yang lebih berat. Dokter mengingatkan masyarakat agar tidak menolak tindakan infus hanya karena merasa masih bisa minum secara manual, sebab penyerapan cairan melalui lambung memerlukan proses yang lebih lama dibandingkan infus yang langsung masuk ke pembuluh darah.
“Infus itu langsung masuk ke pembuluh darah karena yang ditusuk itu pembuluh darah Sedangkan kalau kita minum, itu masuk ke lambung dulu, dari lambung baru diserap lagi, jadi masih panjang, Nah, tapi kalau diberikan bersamaan sih enggak ada masalah tapi jangan meniadakan infusnya,” kata Dokter Rachmat Latief kepada RRI.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa saat terjadi kebocoran pembuluh darah, cairan merembes keluar ke rongga-rongga tubuh seperti paru-paru dan perut. Hal ini menyebabkan konsentrasi sel darah merah meningkat di dalam pembuluh darah karena kehilangan plasma atau cairan darah. Kondisi inilah yang sering kali berujung fatal jika tidak ditangani dengan pemantauan medis yang intensif dan penggantian cairan yang tepat sasaran di fasilitas kesehatan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....