Mengganti Gorengan ke Rebusan jadi Investasi Jangka Panjang
- 26 Feb 2026 20:39 WIB
- Makassar
RRI. CO. ID, Makassar - Tren gaya hidup sehat kini mulai melirik kembali teknik memasak kuno yang sederhana namun kaya manfaat: merebus. Di tengah kepungan makanan cepat saji yang didominasi teknik deep-frying, masakan rebusan muncul sebagai pahlawan nutrisi. Para ahli gizi menekankan bahwa merebus adalah metode memasak yang paling efektif untuk menjaga integritas bahan makanan tanpa menambah beban kalori dari lemak jenuh atau trans yang biasanya terdapat pada minyak goreng.
Dikutip ari World Health Organization (WHO) tentang Pedoman pola makan sehat untuk pencegahan penyakit tidak menular, secara medis, masakan rebusan sangat direkomendasikan untuk menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah. Dengan menghindari minyak, risiko penumpukan kolesterol jahat (LDL) dalam darah dapat ditekan secara signifikan. Selain itu, masakan rebusan memudahkan tubuh dalam menyerap nutrisi karena serat dalam sayuran menjadi lebih lunak namun tetap padat gizi. Hal ini sangat kontras dengan teknik menggoreng yang sering kali merusak struktur vitamin sensitif panas dan menggantinya dengan lemak berlebih.
Bagi mereka yang sedang menjalani program penurunan berat badan, masakan rebusan adalah opsi terbaik. Metode ini memungkinkan seseorang untuk merasa kenyang lebih lama karena kandungan air dalam masakan yang tinggi. Selain itu, indeks glikemik pada bahan makanan tertentu, seperti umbi-umbian, cenderung lebih stabil saat direbus dibandingkan saat digoreng atau dibakar. Stabilitas ini sangat krusial bagi penderita diabetes untuk menjaga kadar gula darah agar tidak melonjak drastis setelah makan.
Sementara dalam Journal of Clinical Nutrition tentang Studi perbandingan metode memasak terhadap retensi mikronutrisi, disebutkan selain manfaat makro, teknik merebus juga menjaga hidrasi tubuh melalui kuah yang dihasilkan. Kaldu alami dari rebusan sayur atau daging mengandung elektrolit alami yang penting bagi keseimbangan cairan tubuh. Nutrisi yang larut dalam air, seperti Vitamin B kompleks dan Vitamin C, memang sebagian akan berpindah ke air rebusan. Oleh karena itu, mengonsumsi masakan rebusan beserta kuahnya adalah cara cerdas untuk memastikan tidak ada nutrisi yang terbuang sia-sia ke saluran pembuangan.
Sebagai langkah awal menuju transformasi kesehatan, masyarakat diimbau untuk mulai mengganti setidaknya satu menu utama harian dengan masakan rebusan. Proses memasak yang lebih singkat dan minim penggunaan bahan kimia tambahan seperti pengawet atau penyedap rasa berlebih menjadikan metode ini sangat ramah bagi organ pencernaan. Dengan konsistensi, perubahan sederhana dalam cara memasak ini diprediksi dapat menurunkan risiko penyakit degeneratif secara global dalam satu dekade ke depan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....