Mengenal Appendicitis atau Peradangan pada Usus
- 14 Feb 2026 21:08 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID,Makassar - Program siaran kesehatan Kiprah Sulsel edisi Sabtu, 14 Februari 2026, kembali menghadirkan edukasi medis bagi masyarakat melalui kolaborasi antara RRI Makassar dan Fakultas Kedokteran UMI Makassar dalam rangka pengabdian masyarakat. Mengangkat topik “Appendicitis: Peradangan Pada Usus Buntu”, acara ini menghadirkan narasumber dokter spesialis bedah, dr. Reeny Purnamasari, yang memberikan penjelasan komprehensif seputar gejala, penyebab, hingga penanganan penyakit yang kerap dialami berbagai kelompok usia tersebut. Program dipandu oleh Arfan Yusri dan disiarkan langsung untuk memberikan pemahaman kesehatan yang mudah diakses masyarakat.
Dalam pemaparannya, dr. Reeny menjelaskan bahwa appendicitis atau radang usus buntu merupakan kondisi peradangan pada organ kecil berbentuk tabung yang terletak di perut kanan bawah. Ia menegaskan bahwa penyakit ini sering kali diawali dengan nyeri perut yang berpindah dari sekitar pusar ke bagian kanan bawah perut. “Appendicitis merupakan kondisi yang tidak boleh dianggap sepele, karena bila tidak segera ditangani dapat menyebabkan pecahnya usus buntu dan menimbulkan infeksi serius pada rongga perut,” ujarnya dalam siaran tersebut.
Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa penyebab utama appendicitis biasanya adalah sumbatan pada saluran usus buntu akibat tinja yang mengeras, pembengkakan jaringan limfoid, atau infeksi. Sumbatan tersebut memicu peradangan dan penumpukan bakteri. Gejala yang umum dirasakan meliputi nyeri perut hebat, mual, muntah, demam ringan, hingga hilangnya nafsu makan. “Jika seseorang merasakan nyeri perut kanan bawah yang semakin intens disertai demam atau muntah, sebaiknya segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan,” tambahnya.
Dr. Reeny juga menekankan pentingnya diagnosis dini untuk mencegah komplikasi. Menurutnya, pemeriksaan fisik oleh dokter, tes darah, serta pemeriksaan penunjang seperti USG atau CT scan dapat membantu memastikan diagnosis. Ia mengingatkan bahwa pengobatan appendicitis umumnya dilakukan melalui tindakan operasi pengangkatan usus buntu atau appendektomi. “Tindakan operasi menjadi pilihan utama dan relatif aman jika dilakukan secara cepat dan tepat. Semakin cepat ditangani, risiko komplikasi akan semakin kecil,” jelasnya.
Selain itu, dalam program tersebut disampaikan pula pentingnya menjaga pola hidup sehat untuk mencegah gangguan pencernaan. Konsumsi makanan berserat, cukup minum air, dan menjaga kebersihan makanan dinilai dapat membantu menurunkan risiko terjadinya sumbatan pada saluran pencernaan. Edukasi kepada masyarakat mengenai tanda-tanda darurat medis juga menjadi fokus agar masyarakat tidak menunda pemeriksaan saat gejala muncul.
Menutup perbincangan, dr. Reeny mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap kesehatan perut dan tidak ragu memeriksakan diri ke dokter saat mengalami keluhan. “Kesadaran masyarakat untuk mengenali gejala awal appendicitis sangat penting. Jangan menunggu nyeri semakin parah, karena penanganan yang cepat dapat menyelamatkan nyawa dan mencegah komplikasi serius,” pesannya. Program Kiprah Sulsel diharapkan terus menjadi ruang edukasi kesehatan yang bermanfaat bagi masyarakat Sulawesi Selatan dan sekitarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....