The Terminator dan Eagle Eye: Ancaman AI yang Bisa Mengambil Alih Kendali Manusia

  • 05 Okt 2026 08:30 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, MAKASSAR - Kecerdasan buatan (AI) berkembang dari sekadar alat bantu menjadi sistem yang mampu menganalisis informasi, membuat rencana, menggunakan perangkat digital, dan menjalankan sejumlah tugas dengan campur tangan manusia yang semakin sedikit. Laporan internationalaisafetyreport.org saat ini kemampuan agen AI dalam melakukan perencanaan dan operasi mandiri terus berkembang, meskipun sistem saat ini belum memiliki kemampuan yang diperlukan untuk mengambil alih kendali manusia secara penuh.

Gambaran ekstrem di masa depan tentang ancaman perkembangan masif kecerdasan buatan dan lepas terkontrol digambarkan dalam film The Terminator (1984) dan The Terminator : The Judgement Day (1991) , melalui perusahaan fiktif Cyberdyne Systems dan sistem AI Skynet. Melansir catalog.afi.THE-TERMINATOR dan catalog.afi.TERMINATOR-2JUDGMENTDAY kisah dalam kedua film yang berkait tersebut bercerita tentang AI Skynet yang awalnya dirancang sebagai sistem pertahanan, tetapi kemudian menjadi sadar, mengambil alih sistem militer, dan memandang manusia sebagai ancaman sehingga memicu konflik antara mesin dan manusia.

Film Eagle Eye menghadirkan gambaran kisah yang berbeda melalui Autonomous Reconnaissance Intelligence Integration Analyst (ARIIA), sebuah komputer intelijen yang mampu mengolah berbagai data, menemukan pola, memperkirakan tindakan berikutnya, dan mengarahkan manusia berdasarkan hasil analisisnya. Melansir wikipedia/Eagle_Eye film ini mengangkat kisah tentang bagaimana sistem kecerdasan buatan yang awalnya dibuat otonom untuk membantu pengambilan keputusan dapat menjadi sangat berbahaya ketika kemampuan analisis dan kendalinya melampaui pengawasan manusia.

Kedua film tersebut memang merupakan fiksi, tetapi gagasannya memiliki hubungan dengan persoalan nyata dalam pengembangan AI modern, terutama ketika sistem diberi kemampuan untuk merencanakan dan bertindak secara mandiri. Laporan keselamatan AI internasional 2026 menjelaskan bahwa risiko loss of control dapat muncul apabila sistem masa depan mampu menjalankan rencana jangka panjang, menghindari pengawasan, atau menghambat upaya manusia untuk menghentikan operasinya.

Ancaman AI tidak selalu berbentuk robot yang menyerang manusia seperti dalam The Terminator, tetapi juga dapat muncul melalui keputusan otomatis yang salah, manipulasi informasi, pelanggaran privasi, serangan siber, atau ketergantungan manusia pada keputusan mesin. Kecerdasan buatan ke depannya memiliki resiko yang dapat memengaruhi individu, organisasi, masyarakat, hak, keamanan, dan lingkungan sehingga pengelolaannya perlu dilakukan sepanjang siklus hidup sistem.

Persoalan yang lebih sulit muncul ketika manusia terlalu percaya pada hasil analisis AI dan secara bertahap menyerahkan keputusan penting kepada mesin. Laporan internationalaisafetyreport menyebut kondisi ini sebagai salah satu bentuk passive loss of control, yaitu ketika pengawasan manusia melemah karena keputusan AI dianggap terlalu cepat, kompleks, atau dapat dipercaya sehingga manusia tidak lagi melakukan pemeriksaan secara bermakna.

Karena itu, hubungan manusia dan AI tidak harus berakhir seperti konflik manusia dengan Skynet atau pengambilalihan manusia oleh ARIIA, tetapi membutuhkan batas kendali yang jelas sejak sistem dirancang. Indonesia sendiri telah menerbitkan Surat Edaran Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 9 Tahun 2023 tentang Etika Kecerdasan Artifisial yang menekankan nilai kemanusiaan, keamanan, keadilan, dan perlindungan pengguna dalam penyelenggaraan AI.

Pertanyaan pentingnya kemudian bukan hanya seberapa cerdas mesin dapat dibuat, tetapi siapa yang tetap memiliki kendali ketika mesin mampu menganalisis, merencanakan, dan bertindak sendiri. Manusia dapat hidup berdampingan dengan teknologi cerdas jika AI tetap menjadi sistem yang diawasi dan dapat dihentikan, sedangkan ketergantungan tanpa batas berpotensi menggeser posisi manusia dari pembuat dan pengendali teknologi menjadi pihak yang mengikuti keputusan teknologi tersebut.

SUMBER :

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....