AI Makin Masif ditengah Sumber Daya Air yang Terancam Menipis
- 20 Sep 2026 17:29 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, MAKASSAR - Penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) berkembang cepat dalam berbagai bidang, mulai dari pendidikan, bisnis, industri hingga layanan publik. Perkembangan ini membutuhkan pusat data berkapasitas besar yang mengonsumsi listrik, perangkat komputasi, serta sumber daya alam dalam jumlah semakin besar.
Ketika manusia modern sekarang semakin nyaman dan bergantung kepada kecerdasan buatan yang wujudnya sudah sangat canggih, beberapa bahkan sudah memiliki kemampuan berpikir nyaris seperti manusia. Ketergantungan tersebut tanpa disadari memiliki resiko besar khususnya di sektor lingkungan khususnya air sebagai media pendingin server.
Penggunaan AI sebagai sarana hiburan juga meningkat pesat dengan jumlah permintaan olah digital AI mencapai jutaan permintaan. Olahan digital dengan berbagai tema di sosial media meningkat tajam salah satunya yang viral adalah olahan media foto digital bertema vintage yang marak diposting publik figur dan masyarakat sebagai gaya hidup.
Pertumbuhan pusat data meningkatkan tekanan terhadap lingkungan karena perangkat komputasi menghasilkan panas dalam jumlah tinggi ketika memproses data secara terus-menerus. Melansir International Energy Agency iea.org, konsumsi listrik pusat data global mencapai sekitar 415 TWh pada 2024, atau sekitar 1,5 persen konsumsi listrik dunia, dan penggunaan listrik pusat data diperkirakan terus meningkat seiring ekspansi AI.
Salah satu persoalan yang semakin mendapat perhatian adalah kebutuhan air untuk mendinginkan pusat data AI. Sistem pendingin tertentu menggunakan air melalui proses evaporasi untuk membuang panas dari peralatan komputasi, sementara kebutuhan listrik pusat data juga dapat menghasilkan jejak air tidak langsung karena sebagian pembangkit listrik membutuhkan air dalam proses produksinya.
AI sangat menguras sumber daya air karena beban komputasinya menghasilkan panas tinggi dan harus dikendalikan secara terus-menerus agar server tetap bekerja stabil. Perusahaan teknologi semakin membutuhkan air akibat sistem pendingin komputer yang digunakan untuk menjalankan program AI serta kebutuhan listrik tambahan untuk mengoperasikan peralatan tersebut.
Risiko tersebut menjadi lebih serius ketika pusat data dibangun di wilayah yang sudah mengalami tekanan terhadap ketersediaan air. Studi yang diterbitkan dalam Nature Sustainability memperkirakan jejak air tahunan server AI di Amerika Serikat dapat mencapai sekitar 731 juta hingga 1,125 miliar meter kubik pada periode 2024 sampai 2030, tergantung skala pembangunan dan tingkat efisiensi yang digunakan.
Kondisi yang mendorong pengembangan teknologi yang dapat mengurangi atau bahkan menghilangkan kebutuhan air untuk pendinginan AI. Melansir microsoft salah satu arahnya adalah sistem pendingin tertutup, pendinginan langsung berbasis cairan, pendinginan udara, penggunaan refrigeran, serta teknologi dry cooling yang membuang panas ke udara tanpa mengandalkan penguapan air dalam jumlah besar.
Prospek teknologi pengganti air semakin terbuka karena pemerintah dan peneliti mulai mengembangkan sistem pendinginan tanpa air untuk pusat data berdaya tinggi. Program COOLERCHIPS dari Departemen Energi Amerika Serikat, sedang mengembangkan teknologi pendinginan yang ditujukan untuk pusat data AI dengan target penggunaan energi lebih rendah dan tanpa air untuk proses pendinginan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....