Santri Makassar Bikin NASA Terkejut, Dua Celah Kritis Berhasil Ditemukan

  • 16 Sep 2026 19:08 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Nama Muh Al Hindawi, santri kelas 12 Pondok Pesantren Al Imam Ashim Makassar, mendapat pengakuan dari National Aeronautics and Space Administration (NASA), badan penerbangan dan antariksa Amerika Serikat. Pengakuan tersebut diberikan setelah Al Hindawi melaporkan dua celah keamanan tingkat kritis pada sistem milik NASA.

Menariknya, kemampuan menemukan celah keamanan tersebut tidak diperoleh melalui pendidikan formal di bidang teknologi informasi. Al Hindawi mengaku baru sekitar empat hingga lima bulan terakhir belajar cybersecurity secara otodidak, dengan memanfaatkan tutorial YouTube dan berbagai laporan riset keamanan yang tersedia di platform Bugcrowd.

Dalam prosesnya, Al Hindawi tidak hanya menemukan kerentanan pada sistem NASA. Ia juga melaporkan satu celah keamanan kritis pada sistem University of Melbourne, Australia, yang kemudian mendapatkan validasi dari tim keamanan siber institusi tersebut. Temuan terhadap NASA dan University of Melbourne disampaikan melalui Vulnerability Disclosure Program (VDP) di platform Bugcrowd. Laporan tersebut selanjutnya diperiksa dan divalidasi oleh tim keamanan masing-masing institusi, sehingga temuan yang dilaporkan Al Hindawi mendapat pengakuan secara resmi.

Al Hindawi menjelaskan, proses pencarian celah keamanan dimulai dengan melakukan pemetaan terhadap sistem yang menjadi target pengujian. “Saat melakukan pemetaan (recon), awal mulanya saya menggunakan Subfinder untuk mengumpulkan subdomain, lalu mengecek status response code-nya menggunakan httpx,” ujar Al Hindawi, Rabu, 16 September 2026.

Dari proses pemetaan tersebut, ia kemudian mempersempit pencarian untuk menemukan sistem yang berpotensi memiliki kerentanan. “Dari sana, baru saya cari sistem yang rentan terkena SQL injection,” katanya menjelaskan tahapan yang dilakukan hingga menemukan celah keamanan.

Hingga kini, catatan Al Hindawi mencakup dua celah keamanan kritis pada sistem NASA dan satu celah keamanan kritis di University of Melbourne. Temuan itu menunjukkan bahwa proses belajar mandiri yang baru berjalan beberapa bulan telah membawanya masuk ke program pelaporan keamanan milik institusi berskala internasional.

Atas kontribusinya dalam membantu mengidentifikasi kerentanan sistem, Al Hindawi menerima Letter of Recognition atau LOR dari NASA. Sementara dari University of Melbourne, ia memperoleh konfirmasi validasi resmi dari tim Cyber Operations sebagai bentuk pengakuan atas laporan keamanan yang disampaikannya.

Perjalanan Al Hindawi ternyata tidak dimulai dari institusi teknologi besar atau perusahaan keamanan siber. Sebelum menemukan celah pada sistem NASA, ia lebih dulu menguji kemampuan dan menemukan kerentanan pada sistem milik Pondok Pesantren Al Imam Ashim Makassar, tempatnya menimba ilmu.

Kisah tersebut memperlihatkan bagaimana Bugcrowd menjadi salah satu ruang yang dimanfaatkan Al Hindawi untuk belajar sekaligus menguji kemampuan cybersecurity secara langsung. Laporan penelitian keamanan dari peneliti lain di platform itu juga menjadi salah satu bahan yang ia pelajari untuk memahami pola kerentanan sistem.

Pengakuan dari NASA sekaligus memperlihatkan bahwa pencarian celah keamanan bukan semata soal kemampuan teknis, tetapi juga bagaimana temuan dilaporkan melalui jalur yang tepat. Dalam kasus Al Hindawi, laporan mengenai kerentanan NASA dan University of Melbourne masuk melalui program resmi Vulnerability Disclosure Program sebelum akhirnya divalidasi oleh tim keamanan masing-masing institusi.

Perjalanan santri asal Makassar ini menambah cerita tentang talenta muda Indonesia yang belajar cybersecurity secara mandiri. Dari lingkungan pesantren, Al Hindawi menunjukkan bahwa akses terhadap materi pembelajaran digital dapat membuka kesempatan untuk mengembangkan keterampilan teknologi hingga berhadapan dengan sistem milik institusi dunia seperti NASA.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....