Digitalisasi Bahasa Daerah Dinilai Penting di Era Teknologi
- 05 Sep 2026 18:26 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar – Pembelajaran bahasa daerah sebagai bagian dari muatan lokal telah diterapkan di sekolah, termasuk di Sulawesi Selatan. Keberadaan muatan lokal tersebut menjadi salah satu upaya untuk memperkenalkan sekaligus mempertahankan penggunaan bahasa daerah kepada generasi muda.
Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Erniati, dalam Obrolan Apresiasi Budaya Lokal Pro4 RRI Makassar, edisi Jumat, 4 September 2026 mengatakan bahwa berbagai penggunaan bahasa yang dituturkan oleh masyarakat dapat menjadi sumber data untuk membangun korpus digital bahasa daerah.
“Semua penggunaan bahasa yang dituturkan oleh masyarakat penutur bahasa itu sendiri merupakan sumber data”, ujar Erniati.
Menurutnya, sumber data tersebut dapat berupa berbagai bentuk penggunaan bahasa dalam kehidupan masyarakat. Di antaranya cerita rakyat, legenda, cerita asal-usul, permainan tradisional, hingga lagu daerah.
“Selain itu, penggunaan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari juga dapat didokumentasikan, baik melalui rekaman video maupun audio. Penggunaan bahasa di pasar, lingkungan pemerintahan, maupun ruang publik lainnya dapat menjadi bagian dari data yang dikumpulkan dalam korpus digital”, jelas Erniati.
Erniati menjelaskan, digitalisasi bahasa daerah penting dilakukan mengingat penggunaan sejumlah bahasa daerah saat ini mulai mengalami pergeseran, terutama di kalangan generasi muda. “Dengan adanya korpus digital, kita mengharapkan generasi muda memiliki sikap positif terhadap bahasa yang dituturkan oleh leluhurnya,” katanya.
Korpus digital juga memungkinkan generasi muda mengakses dokumentasi bahasa daerah kapan saja. Tidak hanya rekaman penggunaan bahasa, tetapi juga berbagai kosakata yang terdokumentasi di dalamnya. Terkait akses terhadap data tersebut, Erniati menjelaskan bahwa BRIN memiliki tempat penyimpanan data hasil riset yang disebut RIN (Research Information Network). Data hasil penelitian, termasuk dokumentasi bahasa daerah, dapat disimpan dalam repositori tersebut.
Menurutnya, para peneliti BRIN yang melakukan penelitian bahasa daerah juga diwajibkan menyimpan data hasil riset dalam repositori tersebut. Data yang disimpan dapat berupa daftar kosakata dasar, tradisi lisan, cerita masyarakat, hingga dokumentasi upacara adat. “Semua bisa disimpan di situ dan bisa diakses oleh masyarakat Indonesia,” ungkap Erniati.
Ia menilai keberadaan korpus digital perlu terus disosialisasikan kepada pemerintah daerah, termasuk Dinas Pendidikan, agar pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran muatan lokal dapat semakin dikembangkan.
Menurut Erniati, pembelajaran bahasa daerah tidak lagi harus terbatas pada buku atau bahan pembelajaran berbasis cetak. Perkembangan teknologi memungkinkan materi bahasa daerah dikemas secara digital sehingga lebih mudah diakses dan diharapkan dapat meningkatkan ketertarikan siswa.
Hasil penelitian yang dilakukan BRIN, diharapkan dapat menjadi acuan bagi pemerintah daerah dalam menyusun regulasi maupun memperbarui materi muatan lokal bahasa daerah.
“Kalau memang muatan lokal bahasa daerah ingin membuat siswa tertarik, sebaiknya diintegrasikan dengan perkembangan zaman. Sekarang adalah zaman digital. Guru juga perlu memiliki kompetensi lebih untuk mengajarkan muatan lokal, bukan hanya berbasis teks, tetapi juga berbasis digital yang dapat diakses melalui korpus digital,” pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....