Akademisi UNM Dampingi Kelompok Peternak Entok Gowa Bangun Sistem Manajemen Paka
- 30 Agt 2026 12:44 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, GOWA - RRI.CO.ID, GOWA - Peternakan entok skala rumah tangga di Desa Pallantikang Gowa masih dikelola manual. Proses penakaran pakan hingga pemantauan kesehatan ternak dilakukan tanpa dukungan teknologi memadai.
Kondisi tersebut mendorong tim PKM Universitas Negeri Makassar memberikan pendampingan kepada peternak. Pendampingan menyasar Kelompok Peternak Entok Dg. Tutu melalui program Peningkatan Kapasitas Kelompok Usaha Entok Desa Pallantikang Gowa melalui Pendampingan Penerapan Sistem Manajemen Pakan dan Pemasaran Berbasis Teknologi Supply Chain”..
Program tersebut didanai hibah DPPM Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi 2026. Pengusulan dan pengelolaan proposal dilakukan melalui platform BIMA untuk mendukung pelaksanaan program.
Program ini melibatkan tim lintas keahlian dari bidang teknologi dan biologi, dengan pendekatan yang disebut Entok Supply Chain, yakni mengintegrasikan pengelolaan pakan, pencatatan produksi, pemantauan kesehatan ternak, hingga strategi pemasaran ke dalam satu ekosistem digital. Kegiatan ini diketuai Asmaul Husnah Nasrullah, M.Kom., yang menangani sistem deteksi dini penyakit mata biru pada entok berbasis kamera pemantau, didampingi oleh dua anggota dosen lainnya, yakni Dr. A. Irma Suryani, M.Si. (bidang pengembangan pakan alternatif) dan Aulyah Zakillah Ifani, S.Kom., M.Kom. (bidang manajemen rantai pasok/supply chain). Di lapangan, tim dibantu sejumlah mahasiswa: Alia Amini Azhar menangani perancangan perangkat keras (hardware) sistem IoT, Marshel mengembangkan aplikasi pemantauan bernama Sientok Penjaga, sementara Alya Afrillia dan Warnisyah Armin masing-masing membantu pengelolaan dokumen dan dokumentasi kegiatan.
Ketua tim PKM Asmaul Husnah Nasrullah mengatakan salah satu inovasi utama program ini adalah timbangan pakan digital berbasis Internet of Things (IoT). Sensor load cell, modul penguat sinyal HX711, dan mikrokontroler ESP32 dipasang untuk mengukur berat persediaan pakan secara real-time, dengan data yang dapat langsung diakses mitra melalui layar LCD di kandang. “Teknologi ini kami hadirkan bukan untuk menggantikan peran peternak, tetapi membantu mitra mengambil keputusan lebih cepat dan tepat berdasarkan data,” ujarnya.
Selain sistem pakan, tim juga memasang kamera pemantau bertenaga surya sebagai alat bantu deteksi dini penyakit mata biru pada entok, salah satu indikator visual kondisi kesehatan ternak yang selama ini sulit dipantau rutin oleh peternak.
Untuk menekan biaya pakan, tim PKM memperkenalkan budi daya pakan alternatif berprotein tinggi kepada mitra, di antaranya azolla microphylla, wolffia, dan larva black soldier fly (BSF) atau maggot. Bahan pakan tersebut diolah menggunakan oven dan mesin pencacah sebelum diberikan kepada entok, sehingga kandungan gizinya lebih mudah dicerna dan biaya produksi pakan dapat ditekan secara mandiri oleh mitra.
Program ini juga membangun infrastruktur kandang berukuran 6x12 meter lengkap dengan fondasi, dinding seng, naungan paranet, serta jalur pipa air minum otomatis untuk anakan dan entok dewasa. Instalasi penerangan dan lampu pemanas (brooding) turut dipasang untuk menjaga suhu anakan entok tetap stabil.
Perwakilan Kelompok Peternak Entok Dg. Tutu, Syaenal Syam, mengaku sangat terbantu dengan kehadiran teknologi tersebut. “Kami merasa terbantu dengan adanya teknologi, sebelumnya semua pengerjaan dilakukan dengan manual, mulai dari pengukuran pakan serta pemantauan, hingga aplikasi yang memberikan instruksi pekerja, kami betul-betul merasakan dampak dan manfaatnya,” ujarnya.
Tim PKM berharap integrasi antara perangkat IoT, sistem pemantauan kesehatan, budi daya pakan alternatif, dan pelatihan manajemen pemasaran ini dapat terus dikembangkan sesuai kebutuhan mitra, sehingga Kelompok Peternak Entok Dg. Tutu di Desa Pallantikang mampu mengelola usahanya secara lebih mandiri, efisien, dan berbasis data ke depannya.
Ketua tim PKM Asmaul Husnah Nasrullah mengatakan salah satu inovasi utama program ini adalah timbangan pakan digital berbasis Internet of Things (IoT). Sensor load cell, modul penguat sinyal HX711, dan mikrokontroler ESP32 dipasang untuk mengukur berat persediaan pakan secara real-time, dengan data yang dapat langsung diakses mitra melalui layar LCD di kandang. “Teknologi ini kami hadirkan bukan untuk menggantikan peran peternak, tetapi membantu mitra mengambil keputusan lebih cepat dan tepat berdasarkan data,” ujarnya.
Selain sistem pakan, tim juga memasang kamera pemantau bertenaga surya sebagai alat bantu deteksi dini penyakit mata biru pada entok, salah satu indikator visual kondisi kesehatan ternak yang selama ini sulit dipantau rutin oleh peternak.
Untuk menekan biaya pakan, tim PKM memperkenalkan budi daya pakan alternatif berprotein tinggi kepada mitra, di antaranya azolla microphylla, wolffia, dan larva black soldier fly (BSF) atau maggot. Bahan pakan tersebut diolah menggunakan oven dan mesin pencacah sebelum diberikan kepada entok, sehingga kandungan gizinya lebih mudah dicerna dan biaya produksi pakan dapat ditekan secara mandiri oleh mitra.
Program ini juga membangun infrastruktur kandang berukuran 6x12 meter lengkap dengan fondasi, dinding seng, naungan paranet, serta jalur pipa air minum otomatis untuk anakan dan entok dewasa. Instalasi penerangan dan lampu pemanas (brooding) turut dipasang untuk menjaga suhu anakan entok tetap stabil.
Perwakilan Kelompok Peternak Entok Dg. Tutu, Syaenal Syam, mengaku sangat terbantu dengan kehadiran teknologi tersebut. “Kami merasa terbantu dengan adanya teknologi, sebelumnya semua pengerjaan dilakukan dengan manual, mulai dari pengukuran pakan serta pemantauan, hingga aplikasi yang memberikan instruksi pekerja, kami betul-betul merasakan dampak dan manfaatnya,” ujarnya.
Tim PKM berharap integrasi antara perangkat IoT, sistem pemantauan kesehatan, budi daya pakan alternatif, dan pelatihan manajemen pemasaran ini dapat terus dikembangkan sesuai kebutuhan mitra, sehingga Kelompok Peternak Entok Dg. Tutu di Desa Pallantikang mampu mengelola usahanya secara lebih mandiri, efisien, dan berbasis data ke depannya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....