UMI Perkuat Kapasitas Nelayan Untia Lewat Literasi Keuangan Digital

  • 14 Agt 2026 14:49 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Upaya meningkatkan kapasitas kelembagaan dan daya saing usaha masyarakat pesisir terus dilakukan melalui berbagai program pemberdayaan. Salah satunya diwujudkan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) oleh dosen Universitas Muslim Indonesia (UMI) bertajuk “Penguatan Kelembagaan Kelompok Usaha Bersama (KUB) Nelayan Melalui Literasi Keuangan Digital dan Manajemen Usaha di Kelurahan Untia, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar.”

Program ini menjadi bagian dari kontribusi Universitas Muslim Indonesia dalam mendukung penguatan ekonomi masyarakat nelayan melalui peningkatan kemampuan pengelolaan keuangan dan tata kelola usaha yang lebih modern, profesional, dan berkelanjutan.

Kegiatan PKM ini diketuai oleh Dr. Hj. Budiandriani, S.E., M.M., dengan anggota Prof. Dr. H. Mahfudnurnajamuddin, S.E., M.M. dan Dr. Tasrik Hasrat, S.S., M.M. Ketiganya merupakan dosen Universitas Muslim Indonesia (UMI) yang secara bersama-sama melaksanakan kegiatan pelatihan dan pendampingan kepada anggota Kelompok Usaha Bersama (KUB) Nelayan Untia. Tim pengabdian memberikan pembekalan agar anggota KUB mampu menghadapi tantangan perkembangan ekonomi digital sekaligus meningkatkan kapasitas pengelolaan usaha yang dimiliki. Sebanyak 10 anggota KUB Untia terlibat aktif sebagai peserta dalam seluruh rangkaian kegiatan.

Keterlibatan dosen UMI dalam kegiatan ini merupakan bentuk nyata pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang pengabdian kepada masyarakat. Melalui kegiatan tersebut, pengetahuan dan pengalaman akademik dosen diterapkan secara langsung untuk membantu masyarakat menghadapi persoalan nyata dalam pengelolaan usaha. Pendekatan yang dilakukan tidak hanya berupa penyampaian materi, tetapi juga diskusi, praktik, dan pendampingan sesuai dengan kebutuhan masyarakat pesisir.

Menurut tim pelaksana, penguatan kelembagaan menjadi faktor penting dalam meningkatkan keberlanjutan usaha nelayan. Banyak kelompok usaha masyarakat pesisir memiliki potensi ekonomi yang cukup besar, namun masih menghadapi berbagai kendala, seperti pencatatan keuangan yang belum tertib, lemahnya perencanaan usaha, keterbatasan akses informasi pasar, serta minimnya pemanfaatan teknologi digital dalam pengelolaan usaha.

"Kondisi tersebut dapat menghambat pertumbuhan usaha dan mengurangi daya saing kelompok dalam jangka panjang," kata Budiandriani, dalam keteragannya, Jumat 14 Agustus 2026.

Rangkaian kegiatan diawali dengan sosialisasi program kepada seluruh anggota KUB Nelayan Untia. Pada tahap ini, tim pengabdian menjelaskan tujuan, manfaat, dan tahapan pelaksanaan program sekaligus melakukan identifikasi kebutuhan serta permasalahan yang dihadapi peserta dalam menjalankan usaha sehari-hari. Diskusi yang berlangsung menunjukkan bahwa sebagian peserta masih membutuhkan pendampingan dalam aspek pengelolaan keuangan, perencanaan usaha, pemasaran, dan pemanfaatan teknologi digital.

Tahap berikutnya adalah pelatihan literasi keuangan digital.

Dalam sesi ini, peserta memperoleh pemahaman mengenai pentingnya pencatatan keuangan yang tertib, pemisahan keuangan usaha dan rumah tangga, penyusunan laporan keuangan sederhana, penyusunan anggaran usaha, serta pemanfaatan aplikasi digital untuk mencatat transaksi dan memantau kondisi keuangan usaha.

Materi tersebut diberikan agar anggota KUB mampu mengelola arus kas dengan lebih baik, melakukan evaluasi usaha secara berkala, mengetahui kondisi keuangan usaha, serta mengambil keputusan bisnis berdasarkan informasi keuangan yang lebih akurat. Literasi keuangan digital juga diharapkan dapat membangun kebiasaan pengelolaan keuangan yang lebih disiplin, transparan, dan mudah dievaluasi.

Selain literasi keuangan digital, peserta mendapatkan pelatihan manajemen usaha yang mencakup perencanaan bisnis, pengelolaan produksi, pengendalian biaya, strategi pemasaran, pelayanan pelanggan, pengembangan produk, hingga penyusunan strategi peningkatan daya saing. Melalui materi tersebut, peserta didorong untuk memiliki pola pikir kewirausahaan yang lebih adaptif dan inovatif sehingga mampu mengembangkan usaha secara berkelanjutan di tengah perubahan lingkungan bisnis yang semakin dinamis.

Tim pengabdian juga mendorong peserta untuk melihat usaha nelayan bukan hanya sebagai aktivitas ekonomi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi sebagai usaha yang memiliki peluang untuk dikembangkan secara lebih profesional. Pengelolaan usaha yang baik diharapkan dapat membuka peluang peningkatan nilai tambah hasil perikanan, memperluas pasar, serta meningkatkan pendapatan keluarga nelayan.

Dalam menghadapi perkembangan ekonomi digital, kemampuan memanfaatkan teknologi menjadi semakin penting. Karena itu, peserta diperkenalkan pada pemanfaatan teknologi tidak hanya untuk pencatatan keuangan, tetapi juga sebagai sarana mendukung pemasaran, komunikasi dengan pelanggan, dan pengembangan jaringan usaha. Dengan demikian, digitalisasi diharapkan menjadi bagian dari strategi KUB dalam meningkatkan daya saing.

Kegiatan berlangsung secara interaktif melalui metode ceramah, diskusi kelompok, studi kasus, dan praktik sederhana. Pendekatan ini memungkinkan peserta tidak hanya memahami konsep yang disampaikan, tetapi juga mampu mengaplikasikannya sesuai dengan kondisi usaha yang mereka jalankan. Antusiasme peserta terlihat dari aktifnya keterlibatan dalam sesi diskusi, tanya jawab, dan praktik penggunaan pencatatan keuangan digital.

Sebagai bagian dari proses pembelajaran, tim PKM juga melakukan evaluasi untuk mengukur tingkat pemahaman peserta setelah mengikuti pelatihan. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan pemahaman peserta mengenai pentingnya pengelolaan keuangan yang baik, pemanfaatan teknologi digital, serta penguatan tata kelola usaha kelompok. Peningkatan kapasitas ini diharapkan menjadi modal penting bagi KUB dalam meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan usaha.

Ketua Tim PKM, Dr. Hj. Budiandriani, S.E., M.M., menyampaikan bahwa penguatan kelembagaan merupakan fondasi utama dalam membangun kelompok usaha yang mandiri dan berdaya saing.

“Melalui kegiatan ini kami berharap anggota KUB tidak hanya memiliki kemampuan teknis dalam menjalankan usaha, tetapi juga mampu mengelola keuangan secara digital, menyusun strategi bisnis yang lebih baik, serta membangun kelembagaan kelompok yang kuat sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan para nelayan dan keluarganya,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa transformasi digital tidak hanya menjadi kebutuhan bagi perusahaan besar, tetapi juga bagi usaha masyarakat pesisir. Kemampuan memanfaatkan teknologi dalam pencatatan keuangan, pemasaran, dan pengambilan keputusan usaha akan menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya saing kelompok usaha nelayan di masa mendatang.

Program ini diharapkan mampu memberikan dampak jangka panjang bagi anggota KUB Untia, tidak hanya dalam aspek peningkatan kapasitas individu, tetapi juga dalam memperkuat kelembagaan kelompok secara keseluruhan. Dengan kelembagaan yang lebih kuat, sistem pengelolaan yang lebih baik, serta kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi, KUB Nelayan Untia diharapkan dapat meningkatkan produktivitas usaha, memperluas akses pasar, dan menciptakan peluang ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat pesisir.

Bagi Universitas Muslim Indonesia, kegiatan ini juga menjadi bagian dari komitmen perguruan tinggi untuk hadir di tengah masyarakat dan memberikan kontribusi nyata melalui keilmuan yang dimiliki para dosen. Kolaborasi antara dosen dan masyarakat diharapkan tidak berhenti pada pelaksanaan pelatihan, tetapi dapat berkembang menjadi hubungan pendampingan yang berkelanjutan untuk mendukung penguatan ekonomi masyarakat pesisir.

Pelaksanaan kegiatan ini sekaligus menjadi wujud nyata implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi Universitas Muslim Indonesia, khususnya pada bidang pengabdian kepada masyarakat. Melalui transfer pengetahuan, pelatihan, dan pendampingan, dosen UMI berupaya menghadirkan solusi atas berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat sekaligus mendorong terciptanya pembangunan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan di wilayah pesisir Kota Makassar.

Ke depan, KUB Nelayan Untia diharapkan tidak hanya menjadi wadah kerja sama ekonomi antaranggota, tetapi berkembang menjadi kelembagaan usaha yang lebih profesional, mandiri, adaptif, dan berdaya saing. Dengan penguatan literasi keuangan digital, manajemen usaha, serta pemanfaatan teknologi, kelompok nelayan diharapkan mampu membangun usaha yang lebih tertata dan berkelanjutan serta memberikan manfaat yang lebih besar bagi anggota dan keluarganya.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....