Unhas Tuan Rumah Kongres Perdana Majelis Guru Besar Kedokteran Gigi Indonesia

  • 08 Agt 2026 20:24 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Majelis Guru Besar Kedokteran Gigi Indonesia (MGBKGI) menggelar National Congress perdana di Unhas Hotel and Convention, Universitas Hasanuddin, pada Jumat 7 Agustus 2026. Forum ini dimaksudkan untuk memperkuat jejaring akademik sekaligus memperluas ruang kolaborasi lintas perguruan tinggi dalam pengembangan ilmu pengetahuan, riset, dan pendidikan kedokteran gigi.

Mengusung tema Academic Leadership in the Digital Era: Inovasi dan Kolaborasi Guru Besar Kedokteran Gigi Indonesia untuk Mewujudkan Riset Berdampak dan Transformasi Pendidikan Tinggi, kongres menghimpun 60 guru besar dari 18 institusi pendidikan kedokteran gigi di Indonesia.

Ketua Panitia, Prof. Rahmi Amtha, drg., MDS., Ph.D., Sp.P.M., Subsp.Noninf., menjelaskan tema kongres mencerminkan komitmen bersama untuk memperkuat kepemimpinan akademik di tengah percepatan transformasi digital. Menurutnya, kemajuan ilmu pengetahuan memerlukan sinergi yang lebih erat antarinstitusi. Kolaborasi tersebut diharapkan melahirkan inovasi, memperluas dampak penelitian, serta mempercepat pengembangan pendidikan tinggi yang adaptif terhadap perubahan zaman.

"Komitmen ini tidak hanya memperkuat jejaring akademik, tetapi juga mendorong lahirnya riset yang memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan tinggi, dan kesehatan masyarakat," jelas Prof. Rahmi, yang juga merupakan guru besar kedokteran gigi Universitas Trisakti, Jakarta.

Ketua MGBKGI, Prof. drg. Muhammad Ruslin, M.Kes., Ph.D., Sp.BMMf., Subsp.Ortognat.D., menjelaskan kongres dirancang dengan pendekatan scientific vacation. Para guru besar dapat berdiskusi dalam suasana yang lebih cair di luar rutinitas akademik yang padat. Target publikasi, penelitian, serta berbagai luaran akademik sering kali membatasi kesempatan membangun komunikasi lintas institusi. Melalui forum ini, para peserta dapat berjejaring dan merumuskan gagasan riset yang lebih relevan terhadap kebutuhan masyarakat dan target pengembangan perguruan tinggi.

Perspektif serupa disampaikan Ketua Asosiasi Fakultas Kedokteran Gigi Indonesia (AFDOKGI), Prof. drg. Suryono, S.H., M.M., Ph.D. Ia mengajak seluruh fakultas kedokteran gigi di Indonesia meninggalkan pola kompetisi yang bersifat eksklusif dan mengedepankan kerja sama.

"Persaingan harus diubah menjadi kolaborasi. Tidak boleh ada fakultas kedokteran gigi berjalan sendiri. Standar mutu dan standar pendidikan harus tumbuh bersama dari Sabang sampai Merauke," ujar Prof. Suyono, yang juga merupakan Dekan FKG Universitas Gadjah Mada ini.

Sementara itu, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, yang diwakili oleh Prof. Dr. med. Tri Hanggono Achmad selaku Tenaga Ahli, menegaskan bahwa guru besar memegang peran penting sebagai penggerak ilmu pengetahuan sekaligus penjaga mutu pendidikan tinggi. Bidang kedokteran gigi masih menghadapi berbagai tantangan. Untuk itu, perguruan tinggi memikul tanggung jawab menghasilkan inovasi, mempercepat lahirnya terobosan ilmiah, serta memperkuat kolaborasi agar hasil penelitian dapat diterapkan secara lebih luas.

Rangkaian kongres turut diwarnai peluncuran Ensiklopedia Majelis Guru Besar Kedokteran Gigi Indonesia Edisi Pertama. Publikasi tersebut menghimpun rekam jejak pemikiran, karya akademik, dan kontribusi para guru besar kedokteran gigi Indonesia. Kehadiran ensiklopedia ini memperkaya dokumentasi perkembangan ilmu kedokteran gigi nasional sekaligus menyediakan rujukan bagi generasi akademisi berikutnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....