Digital Burnout, saat Media Sosial Mulai Menguras Energi Mental
- 02 Agt 2026 09:46 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID,Makassar — Di tengah pesatnya arus informasi digital, fenomena digital burnout kian nyata mengintai masyarakat modern. Kebiasaan mengonsumsi berita atau unggahan media sosial secara terus-menerus tanpa henti yang dikenal dengan istilah doomscrolling kini menjadi salah satu pemicu utama kelelahan mental. Tanpa disadari, dorongan untuk terus mengusap layar ponsel demi mendapatkan informasi terbaru justru menguras energi emosional dan mengganggu ritme hidup sehari-hari.
Dampak paling langsung dari doomscrolling terlihat jelas pada penurunan kualitas tidur dan konsentrasi harian. Menurut studi yang dipublikasikan dalam Journal of Clinical Sleep Medicine, paparan sinar biru (blue light) dan kelelahan informasi (information overload) menjelang tidur secara signifikan menekan produksi hormon melatonin. Akibatnya, otak tetap berada dalam kondisi siaga tinggi, sehingga seseorang rentan mengalami insomnia, terbangun dengan tubuh lelah, dan mengalami penurunan fungsi kognitif saat beraktivitas di siang hari.
Sensasi lelah ini tidak hanya berdampak pada fisik, tetapi juga memperburuk kondisi psikologis. Paparan berita negatif atau konten media sosial secara berlebihan dapat memicu respons stres berkepanjangan pada otak. Informasi yang terus-menerus memicu rasa cemas aka meningkatkan kadar hormon kortisol dan adrenalin, yang jika dibiarkan dalam jangka panjang dapat merusak stabilitas emosional seseorang.
Di balik kebiasaan doomscrolling, terdapat dorongan psikologis yang kuat yaitu Fear of Missing Out (FOMO) atau rasa takut tertinggal tren dan informasi. Berbagai riset jurnal psikologi nasional juga mengonfirmasi bahwa penggunaan media sosial berdurasi tinggi—lebih dari tiga jam sehari—berkorelasi erat dengan peningkatan tingkat kecemasan (anxiety). Keinginan untuk selalu terhubung membuat seseorang merasa cemas jika tidak memegang ponsel, sehingga media sosial yang semula sarana hiburan justru berubah menjadi beban pikiran.
Untuk mengatasi ancaman digital burnout, penerapan digital hygiene atau kebiasaan berinteraksi secara sehat dengan teknologi menjadi langkah praktis yang sangat krusial. Digital hygiene bukan berarti memutus hubungan total dari internet, melainkan membangun batasan yang jelas antara kehidupan nyata dan ruang digital. Langkah sederhana ini dapat dimulai dengan membatasi waktu layar (screen time) dan tidak memegang ponsel setidaknya satu jam sebelum tidur.
Selain itu, penting bagi setiap individu untuk secara bijak menyaring akun atau konten yang dikonsumsi harian. Mengaktifkan fitur mode fokus (focus mode), mematikan notifikasi aplikasi yang tidak mendesak, serta menjadwalkan "detoks digital" singkat saat akhir pekan terbukti efektif memberi ruang istirahat bagi pikiran. Mengarahkan perhatian pada aktivitas fisik di dunia nyata juga membantu mengembalikan kendali atas fokus dan emosi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....