Begini Cara Guru Memanfaatkan Teknologi Ai Secara Bijak
- 01 Agt 2026 20:22 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar – Teknologi pada dasarnya merupakan alat yang diciptakan untuk membantu aktivitas manusia agar dapat dilakukan secara lebih efektif dan efisien, yang perlu digaris bawahi adalah fungsi teknologi sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti manusia. Hal tersebut di ungkapkan Syahruddin Hajja, S.Pd.I., S.M., MBA. - Guru SMP/SMA Ki Hajar Dewantara Makassar/ Chairman Hameta Corporation Indonesia dalam Obrolan Apresiasi Budaya Lokal Pro4 RRI Makassar edisi Jumat, 30 juli 2026.
Menurut Syahruddin, perkembangan teknologi saat ini sering kali dipersepsikan seolah-olah mampu menggantikan seluruh aktivitas manusia. Padahal, sikap yang lebih bijaksana adalah menempatkan teknologi sesuai dengan perannya, yakni membantu manusia menyelesaikan pekerjaan dengan lebih mudah tanpa menghilangkan peran utama manusia itu sendiri.
Lebih lanjut Syahruddin menjelaskan bahwa teknologi terbagi menjadi dua jenis, yaitu teknologi analog dan teknologi digital. Sebagai contoh, pada era 2000-an banyak aktivitas di lingkungan kampus yang masih menggunakan mesin ketik. Meskipun termasuk teknologi karena merupakan alat yang diciptakan untuk membantu pekerjaan manusia, mesin ketik masih tergolong teknologi analog.
Sementara itu, teknologi digital mencakup berbagai perangkat seperti laptop, proyektor, gawai, hingga telepon pintar (smartphone). Namun, dalam dunia pendidikan, pemanfaatan teknologi digital tidak cukup hanya sebatas menggunakan perangkat tersebut sebagai alat bantu pembelajaran. “Yang jauh lebih penting adalah bagaimana teknologi digital dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung proses pembelajaran, mulai dari mempersiapkan materi, merancang desain pembelajaran yang lebih menarik, hingga meningkatkan kualitas penyampaian materi kepada peserta didik," jelas Syahruddin.
Terkait platform dan aplikasi digital yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar, Ia menjelaskan bahwa pemilihannya selalu disesuaikan dengan kebutuhan pembelajaran. "Kalau untuk membagikan materi dan mengumpulkan tugas, saya masih menggunakan Google Classroom karena sangat membantu dalam pengelolaan kelas”, ujar Syahruddin.
Sementara itu, untuk mengevaluasi hasil belajar dan menganalisis data peserta didik, Syahruddin memanfaatkan Google Form. Menurutnya, aplikasi tersebut memudahkan guru dalam menyusun soal sekaligus mengolah hasil evaluasi secara lebih praktis. Untuk membuat materi pembelajaran yang lebih menarik dan interaktif, Syahruddin mengandalkan Canva Education. Platform tersebut dinilai sangat membantu karena menyediakan berbagai template yang siap digunakan sehingga guru tidak perlu lagi membuat desain presentasi dari awal. "Canva sangat memudahkan. Template yang tersedia sudah sangat bagus sehingga guru bisa lebih fokus pada isi materi daripada menghabiskan banyak waktu untuk mendesain presentasi”, ucap Syahruddin.
Selain itu, berbagai media digital lain juga dimanfaatkan dalam proses pembelajaran, seperti YouTube untuk menyajikan visualisasi konsep agar lebih mudah dipahami siswa. Di sisi lain, teknologi berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), seperti ChatGPT dan Microsoft Copilot, juga mulai dimanfaatkan untuk membantu para guru menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), membuat soal, hingga menyiapkan berbagai perangkat pembelajaran.
Untuk menciptakan proses evaluasi yang lebih menarik, Syahruddin juga menggunakan platform asesmen interaktif seperti Quizizz dan Kahoot yang dinilai mampu meningkatkan partisipasi siswa selama pembelajaran berlangsung. Menurutnya, pemanfaatan platform digital tersebut tidak hanya membuat kegiatan evaluasi menjadi lebih menyenangkan, tetapi juga mendorong siswa untuk lebih aktif, antusias, dan termotivasi dalam mengikuti pembelajaran.
Meski demikian, Syahruddin menegaskan bahwa banyaknya aplikasi yang tersedia saat ini tidak berarti semuanya harus digunakan sekaligus. Guru perlu memilih aplikasi yang paling sesuai dengan kebutuhan pembelajaran. "Kalau saya, penggunaannya disesuaikan dengan kebutuhan. Google Classroom untuk pengelolaan kelas, Google Form untuk evaluasi, dan yang paling sering saya gunakan adalah Canva," katanya.
Di akhir penjelasannya, Syahruddin kembali mengingatkan bahwa secanggih apa pun teknologi, termasuk kecerdasan buatan yang kini mampu membantu membuat materi pembelajaran, teknologi tetap harus diposisikan sebagai alat bantu. "Kita harus bijaksana dalam memanfaatkan teknologi. Teknologi hadir untuk membantu pekerjaan manusia, bukan menggantikan peran manusia itu sendiri”, tegasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....