UMMA dan Unhas Ajarkan Peternak Maros Sulap Limbah Jadi Pakan Bernilai Ekonomi

  • 21 Mei 2026 21:02 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Maros - Upaya mendorong kemandirian ekonomi desa kembali diperkuat melalui kolaborasi antara kalangan akademisi dan pemerintah daerah. Kantor Desa Ampekale, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, menjadi pusat kegiatan pengabdian masyarakat kolaboratif yang digelar Universitas Muslim Maros (UMMA) bersama Universitas Hasanuddin (Unhas), Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT), serta Rumah Kemasan Kabupaten Maros, Rabu 20 Mei 2026.

Kegiatan bertema “Sosialisasi Manajemen Keuangan terhadap Kelompok Pembuat Pakan Ternak Mandiri” itu diikuti puluhan peternak dan pelaku usaha lokal yang antusias mendapatkan pelatihan pengelolaan usaha, produksi pakan mandiri, hingga strategi pemasaran produk. Ketua Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM), Ummul Chair, M.M., menegaskan bahwa persoalan utama banyak usaha mikro bukan terletak pada produk yang tidak laku, melainkan lemahnya tata kelola keuangan.

Menurutnya, pelaku usaha kerap mencampur uang usaha dengan kebutuhan rumah tangga sehingga modal perlahan habis tanpa disadari dan usaha sulit berkembang. “Kami hadir bukan hanya membawa teori, tetapi solusi yang bisa langsung diterapkan masyarakat. Pengelolaan keuangan yang sehat menjadi fondasi agar usaha kecil bisa bertahan dan berkembang,” ujarnya.

Dalam sesi materi, tim akademisi UMMA yang terdiri dari Dr. Sarnawiah, Dr. Khaerayani Nur, dan Nur Wahida, M.Si., memaparkan teknik pengelolaan usaha sederhana yang dapat diterapkan kelompok masyarakat desa. Materi yang diberikan meliputi pencatatan buku kas untuk memisahkan arus keuangan usaha dan pribadi, perhitungan Harga Pokok Penjualan (HPP), hingga strategi pemasaran produk pakan mandiri agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

Selain aspek manajemen usaha, peserta juga mendapatkan materi terkait pengembangan pakan ternak berbasis potensi lokal. Akademisi Universitas Hasanuddin, Andi Muhammad Anshar, menjelaskan tingginya kebutuhan pakan ternak, mulai dari ayam pedaging, ayam petelur hingga bebek, yang selama ini membuat biaya produksi peternak terus meningkat.

Ia menilai Desa Ampekale memiliki potensi besar karena kaya akan limbah pertanian dan perikanan yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku alternatif pakan ternak. “Jika limbah pertanian dan perikanan diolah dengan formulasi yang tepat, biaya produksi dapat ditekan tanpa mengurangi kualitas gizi ternak. Ini menjadi solusi untuk meningkatkan keuntungan peternak,” jelasnya.

Potensi pakan mandiri tersebut dinilai tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan kelompok peternak sendiri, tetapi juga berpeluang menjadi usaha komersial baru di tingkat desa.

Kepala UPTD PLUT Maros, Fahmy, S.Sos., mengatakan pengembangan usaha pakan mandiri membutuhkan dukungan legalitas dan kemasan produk agar mampu bersaing di pasar. Ia memastikan PLUT dan Rumah Kemasan Kabupaten Maros siap memberikan pendampingan bagi kelompok usaha yang ingin mengembangkan produknya secara profesional.

“Kami siap membantu pengurusan izin usaha, sertifikasi halal, PIRT hingga desain kemasan secara gratis. Pendampingan ini diharapkan membuat produk lokal Desa Ampekale bisa naik kelas dan memiliki nilai jual lebih tinggi,” katanya.

Suasana kegiatan berlangsung interaktif. Pada sesi diskusi, peserta aktif menyampaikan berbagai persoalan yang mereka hadapi, mulai dari kendala penggunaan mesin penggiling hingga persoalan modal usaha kelompok.

Untuk mengukur efektivitas pelatihan, tim pengabdian juga melakukan evaluasi melalui pengisian kuesioner pre-test dan post-test sebelum dan sesudah penyampaian materi.

Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi foto bersama antara narasumber, fasilitator dan seluruh peserta sebagai penanda komitmen bersama dalam membangun kemandirian ekonomi masyarakat desa melalui pengembangan usaha pakan ternak mandiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....