FIS-H UNM Edukasi Siswa SMAN 8 Makassar Cegah Bullying

  • 13 Mei 2026 10:14 WIB
  •  Makassar

RRI. CO. ID, Makassar - Universitas Negeri Makassar melalui Program Studi Pendidikan Sosiologi kembali menunjukkan komitmennya dalam membangun pendidikan yang aman dan humanis melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertema “Penguatan Kapasitas Siswa dalam Mencegah Terjadinya Bullying” di SMA Negeri 8 Kota Makassar. Kegiatan ini menjadi bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam penguatan karakter dan kesadaran sosial di lingkungan sekolah.

Kegiatan yang diketuai oleh Prof. Dr. Muh Syukur, M.Si ini menghadirkan suasana edukatif sekaligus reflektif. Dalam pemaparannya, Prof. Syukur menekankan bahwa teman sebaya memiliki pengaruh yang sangat besar dalam membentuk budaya pergaulan di sekolah. Menurutnya, bullying sering kali tumbuh bukan hanya karena pelaku, tetapi juga karena lingkungan sosial yang diam dan menganggap perundungan sebagai hal biasa.

“Teman sebaya memiliki kekuatan dalam membentuk norma sosial di sekolah. Ketika lingkungan pertemanan menanamkan nilai empati, saling menghargai, dan kepedulian, maka bullying dapat dicegah sejak dini. Namun ketika perundungan dinormalisasi, maka kekerasan akan terus berulang,” jelasnya di hadapan para siswa.

Lebih jauh, ia mengajak para peserta untuk tidak hanya memahami bentuk-bentuk bullying, tetapi juga berani bersikap. Siswa didorong menjadi agent of change yang aktif menciptakan lingkungan sekolah yang sehat, inklusif, dan bebas dari kekerasan, baik secara langsung maupun di ruang digital.

Turut hadir sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut yakni Muhammad Rijal S.Sos., M.Pd, Rahmi Juwita. S.Pd, M.Pd dan Indriani S.Pd, M.Pd Para pemateri membahas berbagai isu penting seputar bullying, mulai dari bentuk verbal, fisik, sosial, hingga cyberbullying yang kini semakin marak di kalangan remaja. Selain itu, siswa juga diberikan pemahaman mengenai dampak psikologis, sosial, dan akademik yang dapat dialami korban perundungan.

Yang membuat kegiatan ini terasa hidup adalah pendekatan interaktif yang digunakan. Tidak hanya mendengarkan materi, para siswa juga terlibat dalam diskusi kelompok, simulasi kasus, hingga sesi refleksi bersama. Melalui metode partisipatif tersebut, siswa diajak memahami pentingnya menjadi active bystander, yakni saksi yang tidak diam ketika melihat tindakan bullying terjadi.

Pihak sekolah menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan ini karena dinilai relevan dengan tantangan sosial yang dihadapi pelajar saat ini. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah dianggap penting untuk memperkuat pendidikan karakter sekaligus membangun ruang belajar yang aman dan nyaman bagi seluruh siswa.

Kegiatan PKM ditutup dengan deklarasi dan komitmen bersama para siswa untuk menjaga budaya sekolah yang harmonis, menjunjung tinggi rasa saling menghargai, serta menolak segala bentuk perundungan. Dari ruang kelas di SMA Negeri 8 Makassar itu, lahir harapan kecil namun penting: sekolah bukan sekadar tempat belajar pelajaran, tetapi juga tempat belajar menjadi manusia.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....