UIN Alauddin Makassar Dorong Gerakan Perempuan Global

  • 25 Apr 2026 06:43 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar — Women’s Program Nasaruddin Umar Official menggandeng Pusat Studi Gender dan Anak LP2M UIN Alauddin Makassar menggelar Women’s Talk Series dalam rangka memperingati Hari Kartini dan Hari Bumi. Kegiatan yang berlangsung pada 24 April 2026 di Ballroom Hotel Sultan Alauddin Kota Makassar ini menjadi ruang diskusi strategis terkait penguatan peran perempuan dari tingkat lokal hingga global.

Mengangkat tema “Perguruan Tinggi sebagai Epicentrum Pengetahuan: Membentuk Gerakan Perempuan Lokal to Global”, kegiatan ini menghadirkan Menteri Agama RI, Prof. Nasaruddin Umar sebagai keynote speaker secara daring. Turut hadir Rektor UIN Alauddin Makassar Prof. Hamdan Juhannis, Pembina NUO Ir. Zulkarnain, Direktur Women’s Program NUO Andi Tenri Wuleng, serta Ketua PSGA UIN Alauddin Prof. Djuwariah Ahmad.

Selain itu, forum ini juga menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Ketua LP2M UIN Alauddin Makassar Prof. Dr. Ir. Hj. A. Majdah M. Zain, M.Si., Dr. Rosmini Amin, serta Guru Besar Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Alauddin Makassar Prof. Muhzin Mafudz. Kehadiran para akademisi ini memperkaya perspektif dalam membahas isu perempuan dan lingkungan secara komprehensif.

Dalam sambutannya, Menteri Agama RI Prof. Nasaruddin Umar menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis sebagai ruang transformasi yang tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga membentuk kesadaran kritis mahasiswa. Ia menekankan pentingnya melahirkan perempuan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kesadaran teologi dan ekoteologis.

“Perguruan tinggi harus menjadi ruang transformasi bukan hanya untuk menghasilkan lulusan tetapi melahirkan kesadaran kritis, kampus harus mendorong lahirnya perempuan-perempuan yang tidak hanya cerdas secara akademik tetapi juga memiliki kesadaran teologi dan ekoteologis,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya mengintegrasikan perjuangan kesetaraan gender dengan kepedulian terhadap lingkungan. Menurutnya, keadilan terhadap perempuan dan keadilan terhadap alam merupakan dua sisi dari nilai yang sama, yakni keadilan semesta.

“Kita membutuhkan paradigma baru bahwa perjuangan kesetaraan gender harus berjalan seiring dengan perjuangan menjaga bumi karena pada akhirnya keadilan terhadap perempuan dan keadilan terhadap alam adalah dua sisi dari nilai yang sama yaitu keadilan semesta,” katanya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa gerakan perempuan tidak boleh berhenti pada tataran wacana, melainkan harus diwujudkan dalam aksi nyata yang dimulai dari lingkungan terdekat hingga berdampak luas secara global.

Rektor UIN Alauddin Makassar Prof. Hamdan Juhannis menyampaikan bahwa kampusnya telah menerapkan prinsip emansipasi perempuan dalam praktik kelembagaan. Ia mencontohkan sejarah kepemimpinan di UIN Alauddin yang pernah dipimpin oleh perempuan sebagai rektor pertama di Sulawesi Selatan.

Direktur Women’s Program NUO Andi Tenri Wuleng mengapresiasi kolaborasi yang terjalin dalam kegiatan ini. Ia menilai kegiatan tersebut memberikan dampak positif bagi penguatan gerakan perempuan, khususnya di Sulawesi Selatan, sekaligus mendorong kesadaran terkait pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di lingkungan kampus.

Sementara itu, Ketua PSGA UIN Alauddin Prof. Djuwariah Ahmad menegaskan bahwa kegiatan ini bertujuan membangun kesadaran masyarakat kampus dalam menciptakan lingkungan yang aman. Ia menyebut PSGA terus menggaungkan gerakan zero tolerance terhadap kekerasan seksual sebagai bagian dari upaya menciptakan kampus yang bebas dari kekerasan.

Dalam sesi materi, Prof. Majdah M. Zain mengungkapkan bahwa jumlah perempuan di Indonesia mencapai 49,6 persen dari total populasi berdasarkan data BPS 2025. Namun, dominasi jumlah tersebut belum sepenuhnya diiringi dengan kontribusi optimal dalam berbagai sektor kehidupan.

Ia juga menyoroti tingginya angka kekerasan terhadap perempuan. Berdasarkan Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional 2024, satu dari empat perempuan pernah mengalami kekerasan seksual dalam berbagai bentuk, baik verbal, fisik, maupun berbasis digital.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi alarm serius bagi perguruan tinggi untuk berperan aktif dalam membangun kesadaran serta menciptakan ruang aman bagi seluruh civitas akademika.

Lebih jauh, Majdah menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mempercepat pemberdayaan perempuan. Ia menilai sinergi antara pemerintah, organisasi masyarakat, dunia usaha, akademisi, dan komunitas menjadi kunci dalam memastikan program pemberdayaan benar-benar dirasakan hingga ke tingkat akar rumput.

Melalui kegiatan ini, diharapkan lahir gerakan perempuan yang tidak hanya kuat dalam wacana, tetapi juga nyata dalam aksi, serta mampu membawa perubahan dari tingkat lokal menuju skala global.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....