Kuliah Tamu UNISMUH Makassar Bahas AI dan Arsitektur
- 13 Mar 2026 18:22 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar – Diskursus mengenai perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam dunia arsitektur dan pendidikan menjadi sorotan dalam kuliah tamu internasional yang digelar Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar bekerja sama dengan Da Yeh University, Taiwan, Kamis 12 Maret 2026. Kegiatan akademik ini dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting dan diikuti oleh mahasiswa serta dosen dari berbagai program studi di lingkungan Fakultas Teknik Unismuh Makassar.
Kuliah tamu tersebut menghadirkan akademisi Da Yeh University Taiwan, Prof. Liu Kai Chun, serta dosen arsitektur Unismuh Makassar, Ar. Hj. Citra Amalia Amal, sebagai pembicara utama. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperluas jejaring kerja sama internasional sekaligus memperkaya wawasan mahasiswa terkait perkembangan ilmu arsitektur dan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan dalam proses desain.
Acara dibuka oleh Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kerja Sama Fakultas Teknik Unismuh Makassar, Dr. Ir. Ar. Hj. Irnawaty Idrus Ompo, S.T., M.T., IPM. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa kuliah tamu internasional seperti ini penting untuk memberikan perspektif global kepada mahasiswa mengenai dinamika perkembangan teknologi, desain arsitektur, serta tantangan yang dihadapi profesi arsitek di era digital.
“Melalui kegiatan ini kami berharap mahasiswa memperoleh perspektif baru mengenai perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan, serta bagaimana teknologi tersebut dapat dimanfaatkan secara bijak dalam proses perancangan arsitektur,” ujar Irnawaty saat membuka kegiatan tersebut secara daring.
Sementara itu, Dekan Fakultas Teknik Unismuh Makassar, Ir. Syafaat S. Kuba, menjelaskan bahwa kegiatan akademik bertaraf internasional merupakan bagian dari strategi fakultas dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan penelitian. Ia menyebut Fakultas Teknik Unismuh saat ini mengelola lima program studi, yakni Teknik Sipil, Teknik Elektro, Arsitektur, Informatika, serta Perencanaan Wilayah dan Kota yang terus dikembangkan melalui berbagai kolaborasi akademik.
Syafaat juga menyoroti capaian mahasiswa Fakultas Teknik Unismuh dalam berbagai kompetisi nasional. Salah satunya pada ajang Program Kreativitas Mahasiswa Muhammadiyah (PKMM) 2024 di Yogyakarta, di mana tim mahasiswa berhasil meraih medali emas dan perak melalui karya inovatif yang dikembangkan dalam bidang teknologi dan rekayasa.
“Prestasi ini menunjukkan komitmen mahasiswa Fakultas Teknik untuk terus menghadirkan inovasi dan solusi yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
| Baca juga: PKPA Angkatan VII FH Unibos Resmi Dibuka |
Dalam sesi pemaparan materi, Prof. Liu Kai Chun menjelaskan bahwa kecerdasan buatan tidak seharusnya dipandang sebagai pengganti manusia dalam proses desain arsitektur. Menurutnya, AI lebih tepat diposisikan sebagai alat atau mitra kolaboratif yang dapat membantu arsitek mengeksplorasi berbagai kemungkinan konsep desain secara lebih cepat dan efisien.
“AI adalah alat yang dapat mendukung proses kreatif, tetapi pikiran manusia tetap menjadi pusat dalam menentukan arah desain,” kata Liu dalam presentasinya.
Ia juga menekankan bahwa kemampuan menjelaskan ide secara jelas menjadi keterampilan penting bagi arsitek di era kecerdasan buatan. Komunikasi yang baik dengan sistem AI, menurutnya, akan sangat menentukan kualitas hasil yang dihasilkan dalam proses perancangan.
Sementara itu, Ar. Hj. Citra Amalia Amal memaparkan hasil penelitiannya mengenai peran desain ruang dalam membentuk perilaku dan karakter peserta didik, khususnya di lingkungan sekolah berasrama. Ia menjelaskan bahwa arsitektur tidak hanya berfungsi sebagai wadah aktivitas, tetapi juga dapat menjadi media pendidikan yang membentuk perilaku penggunanya secara tidak langsung.
Dalam penelitiannya, Citra menyoroti nilai budaya Bugis-Makassar, khususnya konsep siri’, yang berkaitan dengan martabat, kepantasan, dan kontrol sosial. Nilai tersebut, menurutnya, dapat tercermin dalam pengaturan ruang, batas privasi, serta pola interaksi di lingkungan pendidikan yang dirancang secara sadar oleh arsitek.
“Arsitektur dapat menjadi pendidik yang diam (silent educator). Melalui pengalaman ruang yang berulang, siswa belajar disiplin, tanggung jawab, empati, dan kehidupan kolektif,” ujarnya.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang berlangsung interaktif. Para peserta mengangkat berbagai isu mulai dari tantangan integrasi AI dalam pendidikan arsitektur, penilaian konsep desain yang dihasilkan teknologi, hingga keterampilan yang perlu dimiliki arsitek di masa depan.
Menutup kegiatan tersebut, moderator Irnawaty Idrus Ompo menyampaikan apresiasi kepada para narasumber atas kontribusi pemikiran yang dinilai mampu memperkaya perspektif akademik mahasiswa dan dosen. Ia berharap forum akademik seperti ini dapat terus memperkuat kolaborasi internasional serta membuka wawasan mahasiswa terhadap perkembangan ilmu arsitektur dan teknologi di tingkat global.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....