Menjelang Revalidasi 2026, Geopark Maros-Pangkep Dibenahi Besar-besaran

  • 06 Mei 2026 20:47 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Maros - Pemerintah Kabupaten Maros bergerak cepat menghadapi momentum krusial penilaian ulang status UNESCO Global Geopark untuk Geopark Maros-Pangkep yang dijadwalkan berlangsung pada Juli 2026. Berbagai pembenahan infrastruktur hingga penguatan kolaborasi lintas sektor kini mulai digenjot, menyusul kekhawatiran akan potensi penurunan status jika standar global tak terpenuhi.

Wakil Bupati Maros, Muetazim Mansyur, menegaskan komitmen daerah untuk mempertahankan predikat geopark kelas dunia tersebut. Ia tak menampik, pengalaman kawasan lain yang kehilangan status menjadi pengingat serius bagi seluruh pihak.

“Ini jadi perhatian kita bersama. Jangan sampai status geopark ini terdegradasi. Kita harus maksimal melakukan pembenahan,” ujarnya usai rapat koordinasi di Kantor Bupati Maros, Selasa 5 Mei 2026.

Fokus awal pembenahan diarahkan ke kawasan Rammang-Rammang, khususnya di Dusun Berua, Kecamatan Bontoa salah satu titik unggulan yang kerap menjadi jalur kunjungan tim asesor. Sejumlah akses jalan dilaporkan mengalami kerusakan, sehingga berpotensi memengaruhi penilaian lapangan.

Pemkab Maros memperkirakan kebutuhan anggaran perbaikan jalan di Berua mencapai Rp100 juta hingga Rp150 juta. Namun di tengah keterbatasan fiskal, pemerintah daerah memilih skema kolaboratif dengan menggandeng BUMN melalui program tanggung jawab sosial perusahaan.

“Kita dorong pembiayaan melalui CSR, termasuk dari Angkasa Pura. Ini bentuk gotong royong agar kebutuhan mendesak bisa segera ditangani,” jelas Muetazim.

Di sisi lain, tidak semua fasilitas dapat ditangani dalam waktu singkat. Jembatan gantung di kawasan Pattunuang yang mengalami kerusakan berat dipastikan belum masuk prioritas perbaikan tahun ini. Selain membutuhkan anggaran besar, waktu pengerjaan yang terbatas menjadi kendala utama menjelang proses revalidasi.

General Manager Geopark Maros-Pangkep, Dedy Irfan, mengungkapkan bahwa pihak pengelola sebenarnya telah menjalankan berbagai rekomendasi dari UNESCO sejak 2023. Ia menilai, secara substansi kawasan ini masih layak mempertahankan status globalnya.

“Semua catatan dari UNESCO sudah kami tindak lanjuti. Kami optimistis status ini bisa dipertahankan untuk periode berikutnya,” ujarnya.

Optimisme itu turut diperkuat dukungan dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan. Kepala Dinas Pariwisata Sulsel, Andi Mirna, menyatakan pihaknya telah menyiapkan dana hibah sebesar Rp500 juta untuk membantu pembenahan sarana dan prasarana yang terdampak keterbatasan anggaran daerah.

“Memang masih ada fasilitas yang perlu dibenahi. Kami siapkan hibah untuk mendukung perbaikan. Tapi kami juga berharap ada kontribusi dari BUMN agar beban tidak hanya ditanggung pemerintah,” ungkapnya.

Langkah kolaboratif ini menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan Geopark Maros-Pangkep sebagai salah satu kawasan karst terbesar dan terindah di dunia. Lebih dari sekadar destinasi wisata, geopark ini juga menyimpan nilai geologi, budaya, dan edukasi yang diakui secara internasional.

Dengan waktu yang semakin mendekati proses revalidasi, sinergi antara pemerintah, pengelola, dan sektor swasta menjadi penentu. Taruhannya bukan hanya status global, tetapi juga masa depan pengelolaan kawasan yang berdampak langsung pada ekonomi dan identitas daerah.

Jika pembenahan berjalan sesuai rencana, Maros tidak hanya mempertahankan statusnya, tetapi juga memperkuat posisinya sebagai salah satu destinasi geopark unggulan dunia.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....