Bulog Pastikan Stok Jagung Sulsel Aman, SPHP Capai 6.136 Ton

  • 13 Agt 2026 15:42 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar – Perum Bulog memastikan ketersediaan jagung di Sulawesi Selatan dalam kondisi cukup untuk mendukung kebutuhan peternak ayam petelur. Hal tersebut disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi B DPRD Sulawesi Selatan di Ruang Paripurna Kantor Sementara DPRD Sulsel, Jalan AP Pettarani, Kamis (13/8/2026).

Wakil Pimpinan Bulog Wilayah Sulawesi Selatan dan Barat, Karmila Hasmin Marunta, mengatakan penyerapan jagung petani sepanjang 2026 ditargetkan mencapai 150 ribu ton. Hingga saat ini, realisasi pembelian telah mencapai 63 ribu ton yang tersebar di 24 kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan.

Menurut Karmila, besarnya penyerapan membuat stok jagung Bulog saat ini cukup besar. Pemerintah kemudian menyalurkan sebagian stok melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) untuk menjaga pasokan dan membantu menekan biaya pakan ternak.

Karmila menyebut kuota SPHP jagung telah dikeluarkan dalam dua tahap. Tahap pertama sebanyak 2.245 ton dan tahap kedua 3.891 ton, sehingga total kuota mencapai 6.136 ton dengan realisasi penyaluran 1.900 ton.

"Stok jagung di Sulawesi Selatan ini tidak hanya untuk kebutuhan daerah sendiri. Ketika permintaan peternak belum menyerap seluruh stok yang ada, kami juga membantu daerah lain yang membutuhkan," ujar Karmila.

Wakil Pimpinan Wilayah Bolog Sulselbar Karmila Marunta saat wawancara yerkait jagung SPHP Bulog Harus Tepat Sasaran Bantu Peternak di Sulsel. (Foto: Khaeruddin B)

Stok jagung dari Sulawesi Selatan telah disalurkan ke sejumlah wilayah, antara lain Jawa Timur, Yogyakarta, Kalimantan Selatan, Maluku, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara. Sementara itu, permintaan tambahan dari Jawa Tengah sebanyak 1.500 ton masih dalam proses.

Karmila mengatakan penyaluran antardaerah dilakukan untuk menjaga keseimbangan pasokan nasional. Daerah dengan stok jagung berlebih dapat membantu wilayah yang memiliki kebutuhan peternakan tinggi, sehingga penyerapan hasil panen petani tetap berjalan.

Dari sisi harga, Karmila menyebut harga jagung di tingkat petani mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Harga yang sebelumnya sekitar Rp3.500 per kilogram kini mencapai Rp4.500 per kilogram.

Untuk jagung dengan kadar air 18–20 persen, harga mencapai Rp5.500 per kilogram. Sementara jagung dengan kadar air 14 persen dihargai Rp6.400 per kilogram.

Karmila menilai kenaikan harga tersebut memberikan manfaat bagi petani. Namun, ia mengingatkan agar peningkatan harga jagung tidak berdampak berlebihan terhadap harga telur di tingkat konsumen.

Terkait penyaluran jagung SPHP, Bulog menerima data penerima dari Kementerian Pertanian melalui Badan Pangan Nasional. Data tersebut kemudian diteruskan ke Kantor Pusat Bulog, Kantor Wilayah, hingga Kantor Cabang.

Bulog tidak memiliki kewenangan untuk menetapkan penerima secara langsung. Karena itu, Karmila meminta dinas terkait dan asosiasi peternak memperkuat koordinasi agar data penerima tepat sasaran.

"Dinas terkait dan asosiasi wakil peternak harus mempererat koordinasi. Bulog hanya menerima data dari Kementerian Pertanian melalui Badan Pangan Nasional," tegas Karmila.

RDP Komisi B DPRD Sulsel tersebut menjadi forum untuk menyamakan pemahaman mengenai ketersediaan jagung dan kondisi harga di tingkat petani. Percepatan penyaluran SPHP diharapkan dapat membantu mengendalikan biaya pakan, menjaga stabilitas harga telur, serta mempertahankan keseimbangan kepentingan petani, peternak, dan masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....