Unhas dan CSIS Bahas Dekarbonisasi Industri Baterai Nasional
- 09 Jun 2026 14:01 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar -Departemen Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Hasanuddin bekerja sama dengan Center for Strategic and International Studies (CSIS) menggelar seminar publik membahas strategi dekarbonisasi industri baterai dan kendaraan listrik (EV), Selasa , 9 Juni 2026.
Kegiatan yang berlangsung di Gedung Ipteks Universitas Hasanuddin tersebut diikuti sekitar 150 peserta dari kalangan mahasiswa, akademisi, pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat umum. Seminar bertajuk “Membangun Dekarbonisasi pada Rantai Pasok Industri Baterai dan EV demi Menjaga Daya Saing dan Komitmen Lingkungan Indonesia” itu mengangkat berbagai tantangan dan peluang dalam pengembangan industri baterai nasional di tengah pesatnya hilirisasi nikel.
Sekretaris Universitas Hasanuddin, Prof. Ir. Sumbangan Baja, M.Phil., Ph.D., menegaskan komitmen kampus dalam mendukung agenda dekarbonisasi melalui penguatan riset baterai, kajian kredit karbon, serta pengembangan kendaraan listrik di lingkungan universitas.
Menurutnya, dekarbonisasi merupakan isu strategis yang tidak dapat dipisahkan dari upaya menghadapi perubahan iklim sekaligus menjaga keberlanjutan pembangunan industri nasional.
Sebagai keynote speaker, Bupati Morowali Utara, Dr. dr. Delis Julkarson Hehi, M.ARS., menyampaikan bahwa Indonesia memiliki peluang besar menjadi pemain utama industri baterai kendaraan listrik dunia karena menguasai sekitar 53 persen cadangan nikel global.
“Keunggulan sumber daya yang dimiliki Indonesia harus diiringi dengan upaya pengurangan emisi karbon melalui pemanfaatan energi terbarukan, penerapan teknologi penangkapan karbon, serta pemenuhan standar lingkungan global yang semakin ketat,” ujar Delis.
Peneliti CSIS, Via Azlia Widiyati, menyoroti pentingnya membangun rantai nilai hijau atau green value chain dalam industri kendaraan listrik Indonesia. Menurutnya, keberhasilan hilirisasi nikel belum cukup jika industri masih bergantung pada energi berbasis batu bara.
“Dekarbonisasi rantai pasok, pengurangan penggunaan PLTU captive, dan penerapan prinsip ESG menjadi faktor penting untuk meningkatkan daya saing industri nasional di pasar global,” katanya.
Ketua KADIN Morowali Utara, Ince Mochamad Arief Ibrahim, menambahkan bahwa dekarbonisasi bukan penghambat hilirisasi, melainkan syarat utama agar produk nikel Indonesia tetap kompetitif di pasar internasional.
Sementara itu, Dekan FISIP Unhas, Prof. Dr. phil. Sukri, S.IP., M.Si., menilai keberhasilan dekarbonisasi tidak hanya ditentukan oleh teknologi dan investasi, tetapi juga oleh kebijakan yang mampu menyeimbangkan kepentingan ekonomi, lingkungan, dan masyarakat.
Dari unsur pemerintah daerah, Kepala Bidang Minerba Dinas ESDM Sulawesi Selatan, Jamaluddin, S.T., M.T., mengingatkan bahwa tuntutan pasar global terhadap produk rendah karbon, termasuk melalui kebijakan Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM), menjadikan dekarbonisasi sebagai kebutuhan mendesak.
Dalam sesi diskusi, peserta mengangkat berbagai isu strategis mulai dari ketergantungan industri terhadap batu bara, reklamasi lahan pascatambang, insentif investasi hijau, hingga penguatan regulasi dan pengawasan lingkungan.
Seminar menyimpulkan bahwa dekarbonisasi bukan hanya agenda lingkungan, tetapi juga agenda ekonomi yang akan menentukan daya saing Indonesia dalam industri baterai dan kendaraan listrik di masa depan.
Melalui forum ini, para pemangku kepentingan diharapkan dapat memperkuat kolaborasi guna mendorong transisi energi, mempercepat penerapan teknologi rendah karbon, dan mewujudkan industri baterai nasional yang berkelanjutan serta berdaya saing global.(**)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....