Menabung Bertahun-Tahun dari Timika, Suriani Antar Sang Ibu Menjadi Tamu Allah

  • 23 Jun 2026 09:34 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Di antara ratusan jemaah yang tiba bersama Kloter 29 asal Papua di Aula Arafah Asrama Haji Sudiang Makassar, Selasa 23 Juni 2026 dini hari, sosok Hj. Suriani tampak tak berbeda dengan jemaah lainnya. Namun di balik senyum bahagia yang menghiasi wajahnya, tersimpan kisah perjuangan panjang tentang kerja keras, pengorbanan, dan bakti seorang anak kepada ibunya.

Perempuan kelahiran Segeri, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, itu telah lama merantau ke Timika, Papua Tengah. Di kota tambang tersebut, ia membangun kehidupan dari sebuah usaha sederhana: memasang gigi palsu.

Dari pekerjaan yang dijalani dengan tekun selama bertahun-tahun itulah, Suriani perlahan mengumpulkan harapan yang kelak mengantarkannya bersama sang ibu menuju Baitullah. Bagi Suriani, perjalanan haji tahun ini bukan semata-mata tentang memenuhi panggilan Allah SWT.

Lebih dari itu, perjalanan tersebut adalah wujud nyata cita-cita yang telah lama ia simpan dalam hati, yakni memberangkatkan ibunya menunaikan ibadah haji. "Alhamdulillah, saya dan ibu mendaftar haji bersama pada tahun 2022. Saya berangkat sebagai pendamping lansia karena ibu sudah lanjut usia," tuturnya.

Kesempatan berangkat bersama sang ibu menjadi anugerah yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Di tengah panjangnya antrean haji di Indonesia, Suriani memperoleh kesempatan lebih cepat karena mendampingi ibunya yang masuk kategori lanjut usia.

Namun di balik kemudahan itu, ada perjalanan panjang yang tidak terlihat banyak orang. Bertahun-tahun ia menyisihkan hasil usahanya sedikit demi sedikit.

Tidak ada jalan instan, tidak ada keberuntungan yang datang tiba-tiba. Semua lahir dari kesabaran menabung dan keyakinan bahwa suatu hari ia akan mampu mengantarkan ibunya menjadi tamu Allah.

"Semua dari hasil usaha pasang gigi yang saya jalani selama ini. Alhamdulillah, akhirnya ibu bisa berhaji," ujarnya dengan mata berbinar.

Bagi banyak orang, usaha pemasangan gigi mungkin terlihat sederhana. Namun dari usaha kecil itulah lahir mimpi besar yang kini telah menjadi kenyataan.

Setiap pelanggan yang datang, setiap rupiah yang disisihkan, perlahan berubah menjadi tiket perjalanan menuju Tanah Suci bagi seorang ibu yang telah membesarkannya.

Suriani meyakini, kesempatan mendampingi ibunya berhaji adalah salah satu bentuk balasan Allah atas niat baik seorang anak kepada orang tua.

Ia merasakan sendiri bagaimana jalan yang awalnya tampak jauh dan sulit, perlahan terbuka dengan cara yang tidak pernah disangka. Selama berada di Tanah Suci, Suriani juga bersyukur karena dapat menjalani seluruh rangkaian ibadah dengan lancar.

Menurutnya, pelayanan petugas haji Indonesia sangat membantu, terutama bagi jemaah lansia yang membutuhkan perhatian lebih. "Petugas selalu hadir membantu kami. Alhamdulillah, pelayanan sangat baik sehingga kami bisa fokus beribadah," katanya.

Di sela kisah hajinya, Suriani juga bercerita tentang kehidupannya sebagai perantau di Timika. Meski berasal dari Sulawesi Selatan, ia mengaku telah merasa menjadi bagian dari masyarakat Papua. Hubungan antara pendatang dan masyarakat asli Papua, menurutnya, terjalin dengan baik dan penuh rasa saling menghormati.

"Alhamdulillah, selama ini kami hidup rukun di Timika. Masyarakatnya baik dan saling menghargai," ujarnya.

Pengalaman berhaji juga memberinya pelajaran berharga tentang pentingnya menjaga kesehatan. Ia berpesan kepada calon jemaah haji agar mempersiapkan kondisi fisik jauh sebelum keberangkatan karena ibadah haji memerlukan stamina yang kuat.

"Haji itu ibadah fisik. Jadi kesehatan harus benar-benar dijaga agar seluruh rangkaian ibadah bisa dijalani dengan baik," pesannya.

Kini, setelah menyelesaikan perjalanan spiritual bersama sang ibu, Suriani bersiap kembali ke Timika. Ia pulang bukan hanya dengan gelar hajjah, tetapi juga dengan kebahagiaan yang sulit diukur dengan materi.

Kebahagiaan karena mampu mewujudkan impian seorang ibu yang selama bertahun-tahun menanti kesempatan menjadi tamu Allah. Dari sebuah usaha kecil pemasangan gigi di tanah rantau, lahirlah sebuah perjalanan suci yang penuh makna.

Kisah Hj. Suriani menjadi pengingat bahwa bakti kepada orang tua tidak selalu diwujudkan melalui hal-hal besar. Kadang, ia tumbuh dari kerja keras yang dilakukan setiap hari, dari tabungan yang dikumpulkan sedikit demi sedikit, hingga akhirnya menjelma menjadi doa yang dikabulkan Allah SWT di depan Ka'bah.

Sebuah kisah sederhana, namun sarat pelajaran tentang ketekunan, pengorbanan, dan cinta seorang anak yang ingin melihat ibunya tersenyum di Tanah Suci.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....